Perceraian Halal, Babi Haram?

ceraiSetidaknya ada tiga ratus ribu terjadi perceraian di Indonesia setiap tahun!  Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat perceraian yang tinggi.  Terbukti dari data yang tercatat di Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri. Tahun 2010, Dirjen Bimas Islam melaporkan ada 300,000 perceraian. Bandingkanlah dengan 2juta pernikahan setiap tahunnya.

Babi Haram, Cerai Halal

Haram dan halal adalah hal yang serius dalam agama Islam. Seperti babi, merupakan binatang paling populer yang diharamkan. Apapun yang kena padanya, dianggap najis. Bagaimana jika kita bandingkan dengan perceraian?

Kitab suci umat Islam mengatakan, “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri–istrimu maka hendaklah kamu ceraikan pada waktu mereka dapat iddahnya dan hitunglah waktu iddah itu serta bertawakkalah kepada Alloh SWT. Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang”(Qs 65:1). Islam mengajarkan bercerai adalah halal.

Ditegaskan lebih lagi oleh Muhammad: “Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana” (Qs 4:130). Benarkah Allah mencukupkan kebutuhan mereka setelah bercerai? Lalu, mengapa banyak janda-janda berkekurangan?

Makanan yang hanya sebatas dari mulut ke perut lalu dibuang ke jamban, dianggap begitu penting sehingga diharamkan. Bagaimana dengan perceraian, bukankah perceraian mengakibatkan dampak negatif permanen bagi suami-istri bahkan anak dan keluarga besar?

Cerai Halal Tetapi Dibenci Allah

Perceraian halal, tetapi dibenci Allah. Bila kita kaji, pernyataan ini terdiri dari 2 bagian yang saling bertolak-belakang. Sesuatu yang haram wajar dibenci, tetapi yang halal? Bagaimana mungkin Allah membenci sesuatu yang halal?

Allah sendiri yang mengijinkan perceraian, lalu Allah pula yang membencinya. Apakah Allah ragu-ragu dengan firman-Nya?  Sungguh tidak masuk akal!

Ajaran Isa Tentang Perceraian

Ketika Allah memberi istri bagi Adam, Allah berfirman, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”  (Taurat, Kitab Kejadian 2:24). Artinya, suami-istri telah dipersatukan Allah menjadi satu daging, sehingga tidak dapat diceraikan manusia, termasuk pasangan itu sendiri.

Ditegaskan lagi oleh Isa Al-Masih “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa perceraian sama sekali tidak dibenarkan oleh Allah!

Isa Al-Masih datang ke dunia untuk memperbaiki kontradiksi seperti ini. Ia ingin membentuk hati kita menjadi baru, agar suami-istri dapat mengasihi sebagaimana semestinya. Pembaharuan ini dapat dialami setiap rumah tangga.

[Staf Isa dan Kaum Wanita – Isa Al-Masih mengajarkan suami-istri adalah pasangan yang sepadan. Rindukah saudari menjadi wanita yang sepadan dengan pria? Artikel pada tautan ini dapat membantu saudari.]

 


 
Mutiara Tersembunyi tentang Isa Al-Masih di Alkitab dan Al-Quran
 
 

 

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Apabila Anda memiliki keinginan untuk didoakan, silakan mengisi permohonan doa dengan cara klik link ini.

Add comment

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Komentar hanya diperbolehkan menjawab salah satu dari 3 pertanyaan fokus yang dimuat di bagian akhir artikel. Kecuali beberapa artikel yang tidak memuat 3 pertanyaan fokus.
3. Sebelum menuliskan jawaban, copy-lah pertanyaan yang ingin dijawab terlebih dahulu.
4. Tidak diperbolehkan menggunakan huruf besar untuk menekankan sesuatu.
5. Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.
6. Satu orang komentator hanya berhak menuliskan komentar pada satu kolom. Tidak lebih!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected]

Kiranya petunjuk-petunjuk di atas dapat kita perhatikan.

Wassalam,
Staf, Isa dan Islam

Security code
Refresh

Comments   

# cristiani 2012-08-14 20:22
*
Bila memang Kristen melarang cerai, mengapa banyak orang Kristen yang bercerai? Kalau dalam rumah tangga orang yang beragama Kristen, seorang suami suka menyiksa, selingkuh, dan tidak memberi nafkah, dan lain sebagainya, apa para istri harus bertahan?

Kalau para istri minta cerai, sungguh manusiawi sekali. Kalau para istri beragama Kristen bertahan, apakah mereka bisa bertahan sampai hancur tubuhnya?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-08-15 13:28
~
Saudari Cristiani,

Pertama, kami ingin mengingatkan saudari bahwa tidak semua orang beragama mengerti ajaran agamanya. Itulah sebabnya kita sering mendengar kata “Islam KTP” atau “Kristen KTP”. Artinya, orang-orang ini hanya agamanya saja Islam atau Kristen. Tetapi mereka tidak mengerjakan perintah agamanya dengan benar bahkan mereka tidak mengerti tentang ajaran agamanya.

Nah, bagi orang Kristen yang demikian, menurut mereka cerai, memukul istri, selingkuh sah-sah saja. Namun tidak dengan seorang Kristen yang benar-benar mengerti kebenaran Firman Allah. Mereka akan mengetahui dari Kitab Suci bahwa Allah melarang perceraian. Seorang suami harus menyayangi dan mengasihi istrinya, demikian juga sebaliknya.

Seorang suami Kristen yang benar-benar telah menerima keselamatan dalam Isa Al-Masih, tentu mereka akan tahu bahwa selingkuh adalah zinah di mata Allah.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya , sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Injil, Rasul Besar Matius 5:28).

Memang dalam pernikahan Islam, tidak sedikit rumah tangga yang hidup bahagia hingga tua. Tetapi, ayat Al-Quran tentang poligami memberi kesempatan bagi seorang suami untuk mempunyai istri lebih dari satu. Ayat Al-Quran yang memperbolehkan suami memukul istri, juga dapat dijadikan sebagai pembenaran dari perbuatan kasar suami pada istrinya.

Bagaimana dengan Saudari Cristiani, apakah saudara merindukan suami yang dapat mengasihi saudari, atau – maaf – saudari bersedia bila suatu hari dipoligami?
~
SO
# cristiani 2012-08-15 22:26
*
Siapa bilang kalau orang Kristen yang dekat sama Yesus tidak akan pernah menyiksa atau menganiaya istrinya? Seperti kisah Nur Afni penyanyi tempo dulu, menikah 3x cerai semuanya, bahkan yang terakhir dengan Pendeta bahkan Pendeta ini yang suka menyiksa Nur Afni sampai babak belur. Sehingga wajar saja dia minta cerai.

Seandainya peristiwa ini terjadi pada ibu anda. Ayah anda suka menganiaya ibumu. Sekali lagi ini seandainya, lalu si bapak walau sudah diingatkan tetapi tidak berubah. Apakah anda sebagai anak akan membiarkan ibumu disiksa sampai ibumu mengalami depresi dan bertahan bahwa apa yang disatukan Tuhanmu tidak bisa dipisahkan tangan manusia?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-08-16 13:52
~
Saudari Cristiani,

Dalam contoh kasus yang saudara sebut di atas, kami tidak punya hak untuk mengatakan apakah benar atau salah. Karena kami sendiri tidak mengetahui kasusnya. Dan mungkin juga saudara hanya mengetahuinya lewat media. Dengan kata lain, kita tidak benar-benar tahu apa sebenarnya yang menjadi permasalahan mereka.

Dan lagi, seorang Pendeta bukan jaminan orang tersebut benar-benar hidup kudus sesuai dengan kebenaran firman Allah. Sama halnya dengan ustad. Tidak jarang bukan kita melihat pendeta atau ustad yang jatuh dalam dosa.

Maka, sekali lagi kami jelaskan. Seseorang yang benar-benar hidup kudus sesuai dengan kebenaran firman Allah dalam Injil, dia akan mengerti bagaimana harus memperlakukan isterinya. Demikian sebaliknya, seorang isteri akan mengerti bagaimana memperlakukan suaminya.

Tentang contoh kasus yang saudara katakan. Saya mengenal satu keluarga yang mempunyai problem seperti yang saudara jabarkan. Suaminya bukan hanya memukul isterinya, tetapi juga selingkuh. Tidak memperdulikan anak-anaknya. Karena isteri dan anak-anaknya adalah orang-orang yang mempunyai hubungan baik dengan Tuhan, mereka selalu setia berdoa bagi suaminya. Cukup lama, bahkan beberapa tahun.

Walau suaminya kasar, tetapi si isteri selalu memperlakukan suaminya dengan baik. Menghormati suaminya sebagai kepala keluarga. Isterinya percaya akan janji Allah, bahwa suatu hari nanti suaminya pun akan dipulihkan dan bertobat. Allah tidak pernah melanggar janjinya. Dan memang setelah beberapa tahun lamanya, suaminya bertobat dan keluarga itu pun dipulihkan.

~
SO
# ade 2012-08-23 09:42
*
Dan lagi, seorang Pendeta bukan jaminan orang tersebut benar-benar hidup kudus sesuai dengan kebenaran firman Allah. Sama halnya dengan ustad. Tidak jarang bukan kita melihat pendeta atau ustad yang jatuh dalam dosa.

==============================

Bukankah pendeta sudah dipenuhi oleh Roh Kudus? Mengapa masih bisa melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-08-23 15:31
~
Saudara Ade,

Yang perlu saudara ingat bahwa manusia adalah budak dosa. Dengan kata lain, tidak ada seorang pun manusia yang kudus dan terhindar dari dosa. Bahkan nabi saudara sendiri yang katanya adalah nabi yang mulia, masih berdosa. Apa lagi seorang pendeta?

Roh Kudus sama halnya dengan Allah, seseorang dapat menerima dan menolaknya. Sama halnya seperti saudara, apakah saudara mau taat pada Allah atau tidak, itu adalah pilihan saudara.

Karena manusia adalah budak dosa, untuk itulah mereka memerlukan anugerah dari Allah untuk menolong mereka, agar kelak bila akhir zaman datang, mereka bisa masuk sorga.

Apakah menurut saudara dengan beramal dan beribadah dapat menjamin saudara masuk sorga? Jelas tidak! Keselamatan hanya bisa saudara peroleh di dalam Isa Al-Masih.

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Injil, Kisah Para Rasul 4:12).
~
SO
# arie 2012-08-24 16:03
*
Cerai juga boleh di Kristen, tinggal kasih surat cerai saja: "apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapati yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya" (Taurat, Kitab Ulangan 24:1).
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-08-28 08:05
~
Benarkah Allah dalam Alkitab memperbolehkan perceraian? Jelas tidak! Allah tidak pernah memperbolehkan perceraian. Tetapi semua itu terjadi karena hati manusia yang jahat, kotor, keras tengkuk dan gelap mata.

Dan ketika Isa Al-Masih datang ke dunia, Dia berusaha memperbaiki kehidupan sosial yang rusak, terutama oleh karena pria. Isa Al-Masih mengajarkan bahwa menceraikan istri adalah salah dan merupakan dosa besar.

Perhatikanlah ayat berikut “Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah" (Injil, Rasul Besar Matius 19:8-9).

Dikatakan “sejak semula tidaklah demikian”. Dengan kata lain, sejak semula di Taman Firdaus tidak ada perceraian!
~
SO
# dicky setiarman 2012-09-03 15:15
*
Apa hukum di dalam agama apabila ada pernikahan siri yang mau melakukan perceraian ?

Dan hak asuh anak di dalam perceraian nikah siri jatuh kepada siapa ?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-05 15:25
~
Saudara Dicky Setiarman,

Tentu saja menurut agama Islam mereka sudah sah bercerai ketika syaratnya terpenuhi.

Berdasarkan pasal 105 Kompilasi Hukum Islam bahwa apabila terjadi perceraian, maka hak asuh anak sebagai berikut:
1. Pemeliharaan anak yang belum mumayiz (belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya).
2. Pemeliharaan anak yang sudah mumayiz diserahkan kepada anak untuk memilih antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaan.

Nah, bukankah perceraian mengakibatkan dampak negatif permanen bagi anak, bahkan juga suami-istri?

Namun, Allah dalam Injil menegaskan bahwa tidak membenarkan perceraian.
Mari perhatikan sabda Isa Al-Masih: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).
~
DA
# rusli 2012-09-10 02:32
*
Kalau sepasang suami istri tidak cocok setelah beberapa kali berdamai, maka perceraian adalah solusi terbaik daripada menderita. Diberi kebebasan untuk memilih ini salah satu hikmah perceraian. Istri pun bisa mengajukan perceraian, bukan suami saja. Jadi adil.

Perceraian adalah jalan terakhir dalam Islam. Sebelumnya dilakukan perdamaian dan diberi tenggang waktu untuk berpikir. Setiap perbuatan pasti ada dampak positif dan negatifnya, tergantung manusia bisa menerima kenyataan atau tidak.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-11 16:31
~
Saudara Rusli,

Memang ketidak cocokkan pasti timbul dalam suatu rumah tangga, namun bukan berarti harus mengambil keputusan yang tragis? Lari dari masalah tersebut dengan cara melakukan perceraian. Justru di sinilah letak kesetiaan seseorang diuji terhadap pasangannya.

Pernikahan bukanlah hubungan yang mengikat dalam agama Islam. Al-Quran tidak menganggap perceraian sebagai pilihan yang tragis, ketika upaya lainnya gagal. Ada perbedaan yang mencolok antara ajaran Al-Quran dan Alkitab tentang hal ini.

Dengan tegas Isa Al-Masih mengatakan bahwa: "Demikianlah mereka [suami dan istri] bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia " (Injil, Rasul Besar Matius 19:6). Artinya perceraian tidak dibenarkan oleh Allah.

Perkawinan adalah sesuatu yang sakral. Tujuan perkawinan bukanlah semata-mata hanya untuk kepentingan biologis atau kebutuhan kasih-sayang atau emosi semata. Namun lebih dari pada itu, Injil mencatat bahwa salah satu tujuan pernikahan agar suami istri dapat saling menolong. Sebab pria dan wanita diciptakan Allah saling melengkapi.
~
DA
# aisyah 2012-09-10 20:24
*
Kalau tidak tahu tentang Islam, jangan sembarangan memberi statement, karena dapat mengundang konflik antar umat beragama. Tentu yang membaca bisa mencerna mana yang baik dan yang salah.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-11 16:34
~
Saudara Aisyah,

Tujuan kami bukan untuk mengundang konflik. Tetapi untuk saling bertukar-pikira n tentang hal-hal yang berhubungan dengan wanita dan kepercayaannya. Sebab, tidak sedikit wanita Muslim yang tidak mengerti, mengapa mereka mengalami diskriminasi dari agama mereka. Bagaimana menurut pandangan Saudari Aisyah tentang diskriminasi tersebut?

Kami memandang bahwa kita tentu bisa saja saling menyampaikan argumentasi tentang kepercayaan masing-masing. Jika Saudara menemukan bahwa ternyata apa yang kami tulis adalah salah, maka tentu Saudara bisa memberi masukan kepada kami. Sehingga kita dapat memperoleh manfaat dari sini.
~
DA
# Pengikut_nabi_isa 2012-09-13 14:25
*
Mengapa Islam membolehkan perceraian?

Meskipun Islam membolehkan perceraian, namun ada kaidah-kaidah yang harus dijaga agar perceraian tidak bisa begitu saja dilakukan. Ada beberapa keadaan yang menjadikan hukum perceraian bukan sekedar boleh, yaitu:

Wajib; apabila terjadi perselisihan antara suami istri sedangkan dua hakim yang mengurus perkara keduanya sudah memandang perlu supaya keduanya bercerai.

Sunnat; apabila suami tidak sanggup lagi membayar kewajibannya (nafkahnya) dengan cukup, tidak menjaga kehormatannya.

Haram (bid’ah); dalam dua keadaan, pertama; menjatuhkan thalak sewaktu istri dalam keadaan haid. Kedua; menjatuhkan thalak sewaktu suci yang telah dicampuri dalam waktu suci itu.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-18 14:15
~
Terima kasih atas penjelasan saudara. Sepertinya dalam ajaran Islam terdapat beberapa kelonggaran khususnya dalam hal pernikahan.

Suami yang dianggap mampu secara materi, boleh mempunyai istri lebih dari satu. Pernikahan yang tidak harmonis dapat diakhiri dengan perceraian.

Tentang pernikahan, sepertinya Islam hanya melihat dari sisi pria/suami. Misalnya poligami. Syarat yang diajukan hanya “bila suami”. Pernahkah Islam melihat apakah si istri senang bila suaminya mengambil istri lain? Jelas tidak satu pun istri merasa bahagia bila suaminya mempunyai wanita lain.

Demikian dengan perceraian, walau Islam menetapkan beberapa aturan dalam perceraian, sayangnya, dalam prakteknya tidaklah demikian. Justru dengan adanya ijin perceraian yang diberikan, menjadi satu motivasi/alasan bagi sepasang suami-istri untuk bercerai.

Maka, apapun alasan atau kondisinya, poligami dan perceraian bukanlah jalan keluar dari permasalahan yang terjadi dalam sebuah pernikahan.

Firman Allah berkata, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Markus 10:9).
~
SO
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-14 12:52
~
Kepada pembaca situs kami, kiranya dapat memperhatikan pedoman di bawah ini dalam memberi komentar.

PEDOMAN MEMASUKKAN KOMENTAR:

(1) Tidak boleh memakai lebih dari satu kotak.
(2) Pertanyaan / masukan harus berhubungan erat dengan uraian.
(3) Sebaiknya satu atau paling dua pertanyaan / konsep dimasukan dalam satu comment.
(4) Masukan harus selalu sopan dan jangan agresif.
(5) Masukan tidak boleh memuat banyak bahasa lain, misalnya Bahasa Arab.
(6) Masukan harus dalam Bahasa Indonesia yang lazim dimengerti semua orang.
(7) Masukan tidak boleh memakai singkatan-singk atan, misalnya yg, dlm, sdh,dlsbgnya.
(8) Huruf besar tidak boleh dipakai untuk menekankan sesuatu.
(9) Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.

Kami mempersilakan Saudara mengemail untuk pertanyaan / comment yang majemuk. Kami senang menjawabnya.

Wassalam,
Staff, Isa dan Islam
# astagfirullah 2012-09-23 01:37
*
Aturan dalam Islam sudah benar adanya, kita sebagai umat nabi Muhammad tidak perlu lagi meragukannya.

"Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah, dibolehkan tapi tidak disukai Allah” Apakah itu bertolak-belaka ng? Tentu tidak!

Jadi Allah secara tidak langsung memerintahkan kita untuk selektif mungkin, karena hukum perceraian dalam hadits sudah sangat sedemikian lengkap.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-25 10:38
~
Kata “dihalalkan” dan “dibenci” adalah dua sifat yang bertolak-belaka ng. Kata “dibolehkan” dan “tidak disukai” juga adalah dua kata yang bertolak-belaka ng.

“Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah” adalah dua ungkapan yang digabungkan dengan kata “tapi”.

Bila kita melihat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti dari kata “tapi” adalah kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras.

Demikian kalimat “dihalalkan” bertentangan atau tidak selaras dengan kata “dibenci”. Dengan kata lain, pernyataan "Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah, dibolehkan tapi tidak disukai Allah” adalah pernyataan yang bertolak-belaka ng.
~
SO

Isadanislamstudi2

* Untuk bisa masuk ke pelajaran kursus ini, non-aktifkan 'pop-up blocker' komputer Saudara dengan meng-klik di sebuah 'bar' di bawah 'status bar' di bagian atas layar komputer