Perceraian Halal, Babi Haram?

ceraiSetidaknya ada tiga ratus ribu terjadi perceraian di Indonesia setiap tahun!  Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat perceraian yang tinggi.  Terbukti dari data yang tercatat di Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri. Tahun 2010, Dirjen Bimas Islam melaporkan ada 300,000 perceraian. Bandingkanlah dengan 2juta pernikahan setiap tahunnya.

Babi Haram, Cerai Halal

Haram dan halal adalah hal yang serius dalam agama Islam. Seperti babi, merupakan binatang paling populer yang diharamkan. Apapun yang kena padanya, dianggap najis. Bagaimana jika kita bandingkan dengan perceraian?

Kitab suci umat Islam mengatakan, “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri–istrimu maka hendaklah kamu ceraikan pada waktu mereka dapat iddahnya dan hitunglah waktu iddah itu serta bertawakkalah kepada Alloh SWT. Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang”(Qs 65:1). Islam mengajarkan bercerai adalah halal.

Ditegaskan lebih lagi oleh Muhammad: “Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana” (Qs 4:130). Benarkah Allah mencukupkan kebutuhan mereka setelah bercerai? Lalu, mengapa banyak janda-janda berkekurangan?

Makanan yang hanya sebatas dari mulut ke perut lalu dibuang ke jamban, dianggap begitu penting sehingga diharamkan. Bagaimana dengan perceraian, bukankah perceraian mengakibatkan dampak negatif permanen bagi suami-istri bahkan anak dan keluarga besar?

Cerai Halal Tetapi Dibenci Allah

Perceraian halal, tetapi dibenci Allah. Bila kita kaji, pernyataan ini terdiri dari 2 bagian yang saling bertolak-belakang. Sesuatu yang haram wajar dibenci, tetapi yang halal? Bagaimana mungkin Allah membenci sesuatu yang halal?

Allah sendiri yang mengijinkan perceraian, lalu Allah pula yang membencinya. Apakah Allah ragu-ragu dengan firman-Nya?  Sungguh tidak masuk akal!

Ajaran Isa Tentang Perceraian

Ketika Allah memberi istri bagi Adam, Allah berfirman, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”  (Taurat, Kitab Kejadian 2:24). Artinya, suami-istri telah dipersatukan Allah menjadi satu daging, sehingga tidak dapat diceraikan manusia, termasuk pasangan itu sendiri.

Ditegaskan lagi oleh Isa Al-Masih “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa perceraian sama sekali tidak dibenarkan oleh Allah!

Isa Al-Masih datang ke dunia untuk memperbaiki kontradiksi seperti ini. Ia ingin membentuk hati kita menjadi baru, agar suami-istri dapat mengasihi sebagaimana semestinya. Pembaharuan ini dapat dialami setiap rumah tangga.

[Staf Isa dan Kaum Wanita – Isa Al-Masih mengajarkan suami-istri adalah pasangan yang sepadan. Rindukah saudari menjadi wanita yang sepadan dengan pria? Artikel pada tautan ini dapat membantu saudari.]

 


 
Mutiara Tersembunyi tentang Isa Al-Masih di Alkitab dan Al-Quran
 
 

 

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Apabila Anda memiliki keinginan untuk didoakan, silakan mengisi permohonan doa dengan cara klik link ini.

Add comment

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Komentar hanya diperbolehkan menjawab salah satu dari 3 pertanyaan fokus yang dimuat di bagian akhir artikel. Kecuali beberapa artikel yang tidak memuat 3 pertanyaan fokus.
3. Sebelum menuliskan jawaban, copy-lah pertanyaan yang ingin dijawab terlebih dahulu.
4. Tidak diperbolehkan menggunakan huruf besar untuk menekankan sesuatu.
5. Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.
6. Satu orang komentator hanya berhak menuliskan komentar pada satu kolom. Tidak lebih!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected]

Kiranya petunjuk-petunjuk di atas dapat kita perhatikan.

Wassalam,
Staf, Isa dan Islam

Security code
Refresh

Comments   

# cristiani 2012-08-14 20:22
*
Bila memang Kristen melarang cerai, mengapa banyak orang Kristen yang bercerai? Kalau dalam rumah tangga orang yang beragama Kristen, seorang suami suka menyiksa, selingkuh, dan tidak memberi nafkah, dan lain sebagainya, apa para istri harus bertahan?

Kalau para istri minta cerai, sungguh manusiawi sekali. Kalau para istri beragama Kristen bertahan, apakah mereka bisa bertahan sampai hancur tubuhnya?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-08-15 13:28
~
Saudari Cristiani,

Pertama, kami ingin mengingatkan saudari bahwa tidak semua orang beragama mengerti ajaran agamanya. Itulah sebabnya kita sering mendengar kata “Islam KTP” atau “Kristen KTP”. Artinya, orang-orang ini hanya agamanya saja Islam atau Kristen. Tetapi mereka tidak mengerjakan perintah agamanya dengan benar bahkan mereka tidak mengerti tentang ajaran agamanya.

Nah, bagi orang Kristen yang demikian, menurut mereka cerai, memukul istri, selingkuh sah-sah saja. Namun tidak dengan seorang Kristen yang benar-benar mengerti kebenaran Firman Allah. Mereka akan mengetahui dari Kitab Suci bahwa Allah melarang perceraian. Seorang suami harus menyayangi dan mengasihi istrinya, demikian juga sebaliknya.

Seorang suami Kristen yang benar-benar telah menerima keselamatan dalam Isa Al-Masih, tentu mereka akan tahu bahwa selingkuh adalah zinah di mata Allah.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya , sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Injil, Rasul Besar Matius 5:28).

Memang dalam pernikahan Islam, tidak sedikit rumah tangga yang hidup bahagia hingga tua. Tetapi, ayat Al-Quran tentang poligami memberi kesempatan bagi seorang suami untuk mempunyai istri lebih dari satu. Ayat Al-Quran yang memperbolehkan suami memukul istri, juga dapat dijadikan sebagai pembenaran dari perbuatan kasar suami pada istrinya.

Bagaimana dengan Saudari Cristiani, apakah saudara merindukan suami yang dapat mengasihi saudari, atau – maaf – saudari bersedia bila suatu hari dipoligami?
~
SO
# cristiani 2012-08-15 22:26
*
Siapa bilang kalau orang Kristen yang dekat sama Yesus tidak akan pernah menyiksa atau menganiaya istrinya? Seperti kisah Nur Afni penyanyi tempo dulu, menikah 3x cerai semuanya, bahkan yang terakhir dengan Pendeta bahkan Pendeta ini yang suka menyiksa Nur Afni sampai babak belur. Sehingga wajar saja dia minta cerai.

Seandainya peristiwa ini terjadi pada ibu anda. Ayah anda suka menganiaya ibumu. Sekali lagi ini seandainya, lalu si bapak walau sudah diingatkan tetapi tidak berubah. Apakah anda sebagai anak akan membiarkan ibumu disiksa sampai ibumu mengalami depresi dan bertahan bahwa apa yang disatukan Tuhanmu tidak bisa dipisahkan tangan manusia?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-08-16 13:52
~
Saudari Cristiani,

Dalam contoh kasus yang saudara sebut di atas, kami tidak punya hak untuk mengatakan apakah benar atau salah. Karena kami sendiri tidak mengetahui kasusnya. Dan mungkin juga saudara hanya mengetahuinya lewat media. Dengan kata lain, kita tidak benar-benar tahu apa sebenarnya yang menjadi permasalahan mereka.

Dan lagi, seorang Pendeta bukan jaminan orang tersebut benar-benar hidup kudus sesuai dengan kebenaran firman Allah. Sama halnya dengan ustad. Tidak jarang bukan kita melihat pendeta atau ustad yang jatuh dalam dosa.

Maka, sekali lagi kami jelaskan. Seseorang yang benar-benar hidup kudus sesuai dengan kebenaran firman Allah dalam Injil, dia akan mengerti bagaimana harus memperlakukan isterinya. Demikian sebaliknya, seorang isteri akan mengerti bagaimana memperlakukan suaminya.

Tentang contoh kasus yang saudara katakan. Saya mengenal satu keluarga yang mempunyai problem seperti yang saudara jabarkan. Suaminya bukan hanya memukul isterinya, tetapi juga selingkuh. Tidak memperdulikan anak-anaknya. Karena isteri dan anak-anaknya adalah orang-orang yang mempunyai hubungan baik dengan Tuhan, mereka selalu setia berdoa bagi suaminya. Cukup lama, bahkan beberapa tahun.

Walau suaminya kasar, tetapi si isteri selalu memperlakukan suaminya dengan baik. Menghormati suaminya sebagai kepala keluarga. Isterinya percaya akan janji Allah, bahwa suatu hari nanti suaminya pun akan dipulihkan dan bertobat. Allah tidak pernah melanggar janjinya. Dan memang setelah beberapa tahun lamanya, suaminya bertobat dan keluarga itu pun dipulihkan.

~
SO
# ade 2012-08-23 09:42
*
Dan lagi, seorang Pendeta bukan jaminan orang tersebut benar-benar hidup kudus sesuai dengan kebenaran firman Allah. Sama halnya dengan ustad. Tidak jarang bukan kita melihat pendeta atau ustad yang jatuh dalam dosa.

==============================

Bukankah pendeta sudah dipenuhi oleh Roh Kudus? Mengapa masih bisa melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-08-23 15:31
~
Saudara Ade,

Yang perlu saudara ingat bahwa manusia adalah budak dosa. Dengan kata lain, tidak ada seorang pun manusia yang kudus dan terhindar dari dosa. Bahkan nabi saudara sendiri yang katanya adalah nabi yang mulia, masih berdosa. Apa lagi seorang pendeta?

Roh Kudus sama halnya dengan Allah, seseorang dapat menerima dan menolaknya. Sama halnya seperti saudara, apakah saudara mau taat pada Allah atau tidak, itu adalah pilihan saudara.

Karena manusia adalah budak dosa, untuk itulah mereka memerlukan anugerah dari Allah untuk menolong mereka, agar kelak bila akhir zaman datang, mereka bisa masuk sorga.

Apakah menurut saudara dengan beramal dan beribadah dapat menjamin saudara masuk sorga? Jelas tidak! Keselamatan hanya bisa saudara peroleh di dalam Isa Al-Masih.

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Injil, Kisah Para Rasul 4:12).
~
SO
# arie 2012-08-24 16:03
*
Cerai juga boleh di Kristen, tinggal kasih surat cerai saja: "apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapati yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya" (Taurat, Kitab Ulangan 24:1).
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-08-28 08:05
~
Benarkah Allah dalam Alkitab memperbolehkan perceraian? Jelas tidak! Allah tidak pernah memperbolehkan perceraian. Tetapi semua itu terjadi karena hati manusia yang jahat, kotor, keras tengkuk dan gelap mata.

Dan ketika Isa Al-Masih datang ke dunia, Dia berusaha memperbaiki kehidupan sosial yang rusak, terutama oleh karena pria. Isa Al-Masih mengajarkan bahwa menceraikan istri adalah salah dan merupakan dosa besar.

Perhatikanlah ayat berikut “Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah" (Injil, Rasul Besar Matius 19:8-9).

Dikatakan “sejak semula tidaklah demikian”. Dengan kata lain, sejak semula di Taman Firdaus tidak ada perceraian!
~
SO
# dicky setiarman 2012-09-03 15:15
*
Apa hukum di dalam agama apabila ada pernikahan siri yang mau melakukan perceraian ?

Dan hak asuh anak di dalam perceraian nikah siri jatuh kepada siapa ?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-05 15:25
~
Saudara Dicky Setiarman,

Tentu saja menurut agama Islam mereka sudah sah bercerai ketika syaratnya terpenuhi.

Berdasarkan pasal 105 Kompilasi Hukum Islam bahwa apabila terjadi perceraian, maka hak asuh anak sebagai berikut:
1. Pemeliharaan anak yang belum mumayiz (belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya).
2. Pemeliharaan anak yang sudah mumayiz diserahkan kepada anak untuk memilih antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaan.

Nah, bukankah perceraian mengakibatkan dampak negatif permanen bagi anak, bahkan juga suami-istri?

Namun, Allah dalam Injil menegaskan bahwa tidak membenarkan perceraian.
Mari perhatikan sabda Isa Al-Masih: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).
~
DA
# rusli 2012-09-10 02:32
*
Kalau sepasang suami istri tidak cocok setelah beberapa kali berdamai, maka perceraian adalah solusi terbaik daripada menderita. Diberi kebebasan untuk memilih ini salah satu hikmah perceraian. Istri pun bisa mengajukan perceraian, bukan suami saja. Jadi adil.

Perceraian adalah jalan terakhir dalam Islam. Sebelumnya dilakukan perdamaian dan diberi tenggang waktu untuk berpikir. Setiap perbuatan pasti ada dampak positif dan negatifnya, tergantung manusia bisa menerima kenyataan atau tidak.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-11 16:31
~
Saudara Rusli,

Memang ketidak cocokkan pasti timbul dalam suatu rumah tangga, namun bukan berarti harus mengambil keputusan yang tragis? Lari dari masalah tersebut dengan cara melakukan perceraian. Justru di sinilah letak kesetiaan seseorang diuji terhadap pasangannya.

Pernikahan bukanlah hubungan yang mengikat dalam agama Islam. Al-Quran tidak menganggap perceraian sebagai pilihan yang tragis, ketika upaya lainnya gagal. Ada perbedaan yang mencolok antara ajaran Al-Quran dan Alkitab tentang hal ini.

Dengan tegas Isa Al-Masih mengatakan bahwa: "Demikianlah mereka [suami dan istri] bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia " (Injil, Rasul Besar Matius 19:6). Artinya perceraian tidak dibenarkan oleh Allah.

Perkawinan adalah sesuatu yang sakral. Tujuan perkawinan bukanlah semata-mata hanya untuk kepentingan biologis atau kebutuhan kasih-sayang atau emosi semata. Namun lebih dari pada itu, Injil mencatat bahwa salah satu tujuan pernikahan agar suami istri dapat saling menolong. Sebab pria dan wanita diciptakan Allah saling melengkapi.
~
DA
# aisyah 2012-09-10 20:24
*
Kalau tidak tahu tentang Islam, jangan sembarangan memberi statement, karena dapat mengundang konflik antar umat beragama. Tentu yang membaca bisa mencerna mana yang baik dan yang salah.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-11 16:34
~
Saudara Aisyah,

Tujuan kami bukan untuk mengundang konflik. Tetapi untuk saling bertukar-pikira n tentang hal-hal yang berhubungan dengan wanita dan kepercayaannya. Sebab, tidak sedikit wanita Muslim yang tidak mengerti, mengapa mereka mengalami diskriminasi dari agama mereka. Bagaimana menurut pandangan Saudari Aisyah tentang diskriminasi tersebut?

Kami memandang bahwa kita tentu bisa saja saling menyampaikan argumentasi tentang kepercayaan masing-masing. Jika Saudara menemukan bahwa ternyata apa yang kami tulis adalah salah, maka tentu Saudara bisa memberi masukan kepada kami. Sehingga kita dapat memperoleh manfaat dari sini.
~
DA
# Pengikut_nabi_isa 2012-09-13 14:25
*
Mengapa Islam membolehkan perceraian?

Meskipun Islam membolehkan perceraian, namun ada kaidah-kaidah yang harus dijaga agar perceraian tidak bisa begitu saja dilakukan. Ada beberapa keadaan yang menjadikan hukum perceraian bukan sekedar boleh, yaitu:

Wajib; apabila terjadi perselisihan antara suami istri sedangkan dua hakim yang mengurus perkara keduanya sudah memandang perlu supaya keduanya bercerai.

Sunnat; apabila suami tidak sanggup lagi membayar kewajibannya (nafkahnya) dengan cukup, tidak menjaga kehormatannya.

Haram (bid’ah); dalam dua keadaan, pertama; menjatuhkan thalak sewaktu istri dalam keadaan haid. Kedua; menjatuhkan thalak sewaktu suci yang telah dicampuri dalam waktu suci itu.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-18 14:15
~
Terima kasih atas penjelasan saudara. Sepertinya dalam ajaran Islam terdapat beberapa kelonggaran khususnya dalam hal pernikahan.

Suami yang dianggap mampu secara materi, boleh mempunyai istri lebih dari satu. Pernikahan yang tidak harmonis dapat diakhiri dengan perceraian.

Tentang pernikahan, sepertinya Islam hanya melihat dari sisi pria/suami. Misalnya poligami. Syarat yang diajukan hanya “bila suami”. Pernahkah Islam melihat apakah si istri senang bila suaminya mengambil istri lain? Jelas tidak satu pun istri merasa bahagia bila suaminya mempunyai wanita lain.

Demikian dengan perceraian, walau Islam menetapkan beberapa aturan dalam perceraian, sayangnya, dalam prakteknya tidaklah demikian. Justru dengan adanya ijin perceraian yang diberikan, menjadi satu motivasi/alasan bagi sepasang suami-istri untuk bercerai.

Maka, apapun alasan atau kondisinya, poligami dan perceraian bukanlah jalan keluar dari permasalahan yang terjadi dalam sebuah pernikahan.

Firman Allah berkata, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Markus 10:9).
~
SO
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-14 12:52
~
Kepada pembaca situs kami, kiranya dapat memperhatikan pedoman di bawah ini dalam memberi komentar.

PEDOMAN MEMASUKKAN KOMENTAR:

(1) Tidak boleh memakai lebih dari satu kotak.
(2) Pertanyaan / masukan harus berhubungan erat dengan uraian.
(3) Sebaiknya satu atau paling dua pertanyaan / konsep dimasukan dalam satu comment.
(4) Masukan harus selalu sopan dan jangan agresif.
(5) Masukan tidak boleh memuat banyak bahasa lain, misalnya Bahasa Arab.
(6) Masukan harus dalam Bahasa Indonesia yang lazim dimengerti semua orang.
(7) Masukan tidak boleh memakai singkatan-singk atan, misalnya yg, dlm, sdh,dlsbgnya.
(8) Huruf besar tidak boleh dipakai untuk menekankan sesuatu.
(9) Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.

Kami mempersilakan Saudara mengemail untuk pertanyaan / comment yang majemuk. Kami senang menjawabnya.

Wassalam,
Staff, Isa dan Islam
# astagfirullah 2012-09-23 01:37
*
Aturan dalam Islam sudah benar adanya, kita sebagai umat nabi Muhammad tidak perlu lagi meragukannya.

"Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah, dibolehkan tapi tidak disukai Allah” Apakah itu bertolak-belaka ng? Tentu tidak!

Jadi Allah secara tidak langsung memerintahkan kita untuk selektif mungkin, karena hukum perceraian dalam hadits sudah sangat sedemikian lengkap.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-25 10:38
~
Kata “dihalalkan” dan “dibenci” adalah dua sifat yang bertolak-belaka ng. Kata “dibolehkan” dan “tidak disukai” juga adalah dua kata yang bertolak-belaka ng.

“Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah” adalah dua ungkapan yang digabungkan dengan kata “tapi”.

Bila kita melihat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti dari kata “tapi” adalah kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras.

Demikian kalimat “dihalalkan” bertentangan atau tidak selaras dengan kata “dibenci”. Dengan kata lain, pernyataan "Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah, dibolehkan tapi tidak disukai Allah” adalah pernyataan yang bertolak-belaka ng.
~
SO
# Andre 2012-09-23 08:32
*
Amerika adalah negara mayoritas Kristen. Mungkin 50% rakyat Amerika memeluk agama Kristen. Tetapi mengapa di Amerika banyak perceraian dan seks bebas?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-25 10:37
~
Islam adalah agama mayoritas penduduk Indonesia. Tetapi apakah seluruh orang Islam di Indonesia mengerti dengan benar ajaran Islam? Tentu tidak! Karena tidak sedikit orang Islam di Indonesia yang tidak mengerti bahkan tidak menjalankan ajaran Islam dengan baik. Orang-orang seperti ini biasa dikenal dengan nama Islam KTP.

Demikian juga dengan orang Kristen di Amerika. Jelas tidak semua mereka mengerti dengan baik ajaran Isa Al-Masih. Juga tidak sedikit di antara mereka hanya Kristen KTP.

Seseorang yang benar-benar telah menerima keselamatan dari Isa Al-Masih, akan hidup sesuai kebenaran dari ajaran Isa Al-Masih. Orang-orang seperti ini akan mengerti, bahwa perceraian dan seks bebas adalah hal yang dilarang. Dan tentu mereka tidak akan melakukannya.

Sedangkan mereka yang sering melakukan kawin-cerai dan seks bebas, adalah orang-orang yang tidak mengerti ajaran Isa Al-Masih, dan belum menerima keselamatan dari Isa Al-Masih.
~
SO
# pfaishall 2012-09-26 22:54
*
Komen-komen yang anda berikan selalu menjelekkan Islam. Orang yang menilai yang lain jelek, sudah pasti dirinya lebih jelek. Giliran anda yang disalahkan (kasus pendeta/Nur Afni) anda mencari alasan pembenarannya. Sebaiknya kalau anda yakin dengan ajaran agama anda, beribadahlah sungguh-sungguh . Jangan sibuk mencari kejelekan agama lain yang anda sendiri tidak mengerti sepenuhnya.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-27 16:22
~
Saudara Pfaishall,

Sepertinya saudara sudah salah dalam memberi penilaian kepada kami. Tujuan kami bukan untuk menjelekkan agama Islam atau siapapun. Tujuan website ini untuk tempat saling bertukar-pikira n tentang hal-hal yang berhubungan dengan wanita dan kepercayaannya.

Jika Saudara menemukan bahwa ternyata apa yang kami tulis adalah salah, maka tentu Saudara boleh memberi masukan kepada kami. Sehingga kita dapat memperoleh manfaat dari sini, terima kasih.
~
DA
# wandi 2012-10-17 23:09
*
Saya (suami) mau tanya, istri saya keluar dari rumah tapi tanpa seizin saya sudah berjalan 7 bulan tanpa tegur sapa. Apa lagi tanggung jawab dia sebagai istri tak ada lagi sedangkan saya sudah 3x berusaha mengajak istri saya rujuk. Tapi dia tak mau sedangkan saya sayang. Yang saya tak habis pikir perceraian saya sama istri dibuat oleh keluarga dia melalui jalan yang tak diridhoi Allah yaitu syirik.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-10-18 12:07
~
Saudara Wandi,

Kami salut akan kasih saudara kepada Istri. Memang tidak semua umat Muslim melakukan perceraian ketika menghadapi permasalahan keluarganya.

Sepintas kalau tidak salah dalam hal ini istri saudara Wandi telah lalai menjadi seorang Istri. Dan berujung perceraian. Tetapi apa permasalahannya Saudara Wandi yang tahu. Jika saudara Wandi berkenan untuk berdiskusi lebih lanjut kami persilakan mengemail kami di .

Dan tidak lupa kami berdoa buat saudara Wandi. Kiranya Isa Al-Masih yang penuh kasih akan menolong, menghibur dan menjawab kerinduan Saudara Wandi.

“Marilah kepada-Ku [Isa Al-Masih], semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Injil, Rasul Besar Matius 11:28).
~
DA
# cowoq cakep 2012-11-13 00:58
*
Setahu saya agama Kristen Protestan dan Katholik sama-sama mengakui Alkitab sebagai kitab sucinya, dan sama-sama mengimani Yesus sebagai Anak Allah. Lalu mengapa kedua agama yang sama-sama mengimani Alkitab ini punya pandangan yang berbeda?

Kristen Protestan membolehkan perceraian, sedangkan Khatolik tidak membolehkannya. Mana yang benar? Jika anda bilang Alkitab melarang perceraian berarti pandangan orang-orang Kristen Protestan salah semua?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-11-16 17:15
~
Saudara Cowoq Cakep,

Benar, bahwa Kristen Protestan dan Katholik sama-sama mengimani Alkitab dan Isa Al-Masih adalah Anak Allah. Artinya keduanya berpegang kepada firman Allah. Jadi, yang jelas Kristen Protestan maupun Katholik mengenai pernikahan berpegang pada firman Allah yaitu tidak membenarkan perceraian.

Allah tidak pernah memperbolehkan perceraian. Tetapi semua itu terjadi karena hati manusia yang jahat, kotor, keras tengkuk dan gelap mata.

Dan ketika Isa Al-Masih datang ke dunia, Dia berusaha memperbaiki kehidupan sosial yang rusak, terutama oleh karena pria. Isa Al-Masih mengajarkan bahwa menceraikan istri adalah salah dan merupakan dosa besar.

Perhatikanlah ayat berikut “Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah" (Injil, Rasul Besar Matius 19:8-9).

Dikatakan “sejak semula tidaklah demikian.” Dengan kata lain, sejak semula di Taman Firdaus tidak ada perceraian!
~
DA
# rahman 2012-11-15 00:05
*
Sahabat Admin,

Tentang hadits tersebut, dalam Islam ada takhrij hadits yang tidak dimiliki oleh agama apapun di dunia ini. Dalam hal ini, setiap kabar dari Nabi Muhammad yang dibawakan oleh pencatatnya, perlu diteliti kebenarnnya.

Hadits tersebut di atas adalah riwayat Imam At-Tirmizi, bunyinya sebenarnya "Perkara halal yang paling Allah benci adalah perceraian". Hanya saja derajat hadits ini lemah sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Kebolehan perceraian itu jelas dari Tuhan, karena Dia-lah yang telah menciptakan sehingga lebih tahu isi hati manusia, justru jauh lebih mulia bercerai daripada berselingkuh.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-11-19 12:35
~
Saudara Rahman,

Terlepas dari apakah hadits di atas lemah atau tidak, kenyataannya hadits tersebut diakui oleh umat Islam. Dimana dalam hal ini, seorang sahabat nabi menulis ulang apa yang disampaikan Muhammad, bahwa menurutnya, Allah membenci perceraian tetapi juga memperbolehkannya.

Lantas, apakah standart yang diberikan oleh Muhammad mengenai kekudusan pernikahan?

Memang yang menciptakan manusia adalah Allah, tetapi saudara juga harus ingat, salah satu sifat Allah adalah konsisten akan janji-Nya. Bila Dia telah mempersatukan dua anak manusia dalam sebuah pernikahan, jelas Dia tidak akan melanggar janji tersebut dengan memisahkan mereka.

Masalah-masalah yang timbul dalam pernikahan yang berujung pada sebuah perceraian, adalah masalah yang ditimbulkan manusia. Bukan atas persetujuan dari Allah. Dan soal perceraian, adalah jalan keluar dari permasalahan tersebut yang diambil oleh manusia, bukan seijin Allah. Dengan kata lain, seseorang yang bercerai, telah melanggar ketetapan Allah. Dan apakah saudara tahu apa akibatnya bila melanggar ketetapan Allah? Jelas, dosa adalah ganjarannya!

Sehingga, baik perceraian maupun selingguh, kedua-duanya tidak ada yang mulia di hadapan Allah.
~
SO
# M. Jauhar Fuady 2012-11-25 06:58
*
Maksud dari Allah menghalalkan perceraian tapi membenci perceraian adalah bahwa perceraian itu diperkenankan apabila maksud dan tujuan dari pernikahan tersebut tidak tercapai sehingga kemudharatan harus dihindari.

Selain itu dalam hukum Islam ada hukum yang bersifat baku/mutlak dan ada pula hukum yang bersifat dinamis di situlah letak ketaqwaan seseorang dapat terlihat. (ilmu Allah melebihi kemampuan dan pemikiran ciptaan-Nya).
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-11-27 10:49
~
Saudara M.Jauhar Fuady,

Kami sependapat dengan saudara bahwa Allah melebihi kemampuan dan pemikiran ciptaan-Nya. Bila Allah telah mempersatukan dua anak manusia dalam sebuah pernikahan, jelas Dia tidak akan melanggar janji tersebut dengan memisahkan mereka, bukan?

Kesimpulannya, dengan perceraian ketaqwaan seseorang dapat dilihat. Dengan kata lain perceraian adalah bukti ketidaktaatan terhadap ketetapan Allah.
~
DA
# rintika.sari 2013-01-19 22:40
*
Bagaimana cara istri yang menceraikan suaminya?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-01-22 16:21
~
Saudara Rintika Sari,

Terima kasih atas komentarnya.

Dengan tegas Isa Al-Masih mengatakan bahwa: "Demikianlah mereka [suami dan istri] bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia " (Injil, Rasul Besar Matius 19:6). Artinya perceraian tidak dibenarkan oleh Allah.

Perkawinan adalah sesuatu yang sakral. Injil mencatat bahwa salah satu tujuan pernikahan agar suami istri dapat saling menolong. Sebab pria dan wanita diciptakan Allah saling melengkapi.

Bagaimana dengan saudari Rintika, rindukah saudara memiliki suami yang mengasihi saudara?
~
DA
# syahrin 2013-01-20 03:51
*
Terima kasih dengan artikel ini yang secara gamblang menjelaskan "kearifan" agama Islam dalam hal perceraian, kontradiktif dengan konsep perceraian Kristen ditambah dengan komen-komen staf Kristen yang kehilangan substansi pertanyaan.

Perlu diketahui bahwa hak menikah mutlak ada pada wanita dan hak cerai mutlak ada pada pria. Dalam Islam tidak dapat menikah seorang pria tanpa seorang wanita dengan walinya, demikian pula hak talak hanya ada pada pria. Kristen tidak punya konsep jelas dalam konteks hukum rumah tangga, perceraian karena itu risiko logis sebuah pernikahan. Urusan iddah saja Islam atur. Sebaiknya Anda belajar lagi agama Kristen sebelum membuat artikel komedi seperti ini.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-01-23 13:29
~
Saudara Syahrin,

Terima kasih telah membaca dan merespon artikel kami.

Saudara Syahrin benar, bahwa ada kontradiktif dalam hal perceraian antara ajaran Islam dengan ajaran Alkitab. Yaitu ajaran Islam menghalalkan perceraian, tetapi dibenci Allah.

Namun, mari kita perhatikan kehendak Allah mengenai pernikahan. Ketika Allah memberi istri bagi Adam, Allah berfirman, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Taurat, Kitab Kejadian 2:24). Artinya, suami-istri telah dipersatukan Allah menjadi satu daging, sehingga tidak dapat diceraikan manusia, termasuk pasangan itu sendiri.

Ditegaskan lagi oleh Isa Al-Masih “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa perceraian sama sekali tidak dibenarkan oleh Allah!

Nah, bagaimana menurut Saudara Syahrin benarkah Allah lupa akan ketetapan-Nya?
~
DA
# Hamba Alloh 2013-03-12 15:59
*
Mohon kiranya kepada penulis kalau anda meyakini ajaran agama anda itu benar, silakan menjalankannya. Tetapi jangan mencari pembenaran dengan membandingkan dengan keyakinan umat agama lain. Karena dari cara anda menjawab komentar, menulis artikel bisa membawa perpecahan umat beragama dan akhirnya akan menimbulkan perpecahan persatuan dan kesatuan.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-03-20 16:54
~
Saudara Hamba Alloh,

Terima kasih atas komentar Saudara. Kami sangat menghargai pandangan Saudara.

Kami tidak mencari pembenaran karena sebagai wahyu Allah, Alkitab sudah lebih dari cukup sebagai dasar kebenaran. Jika saudara menilai bahwa artikel ataupun jawaban komentar kami terkesan membandingkan itu mungkin karena memang adanya perbedaan.

Pertanyaannya: Apakah menurut saudara Allah lupa akan ketetapan-Nya?

Kami yakin ketika kita mau belajar bersama, berbagi, menyelidiki dan berpikir terbuka akan semakin mempererat persatuan.
~
DA
# mujahidin 2013-04-02 07:12
*
Agama Islam adalah agama yang sempurna melebihi agama yang lain. Agama Islam mengatur umatnya di dunia agar selamat sampai di kehidupan akhirat. Masalah kawin cerai juga merupakan ibadah karena mengharap ridho dan rahmat Allah. Contoh kalau suami atau istri kafir, cerai itu wajib, karena orang kafir itu kotor dan najis.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-04-05 16:19
~
Saudara Mujahidin,

Kami menghargai keyakinan Saudara Mujahidin. Boleh kami bertanya? Bagaimana dengan Saudara Mujahidin, sudah yakin pasti selamat di akhirat?

Menurut Saudara Mujahidin kawin cerai adalah ibadah. Bagaimana dapat dikatakan ibadah sedangkan bercerai dibenci Allah? Bukankah setiap orang mempunyai hak untuk bertobat, mengapa justru dicerai?

Isa Al-Masih menekankan bahwa Allah sangat mengasihi manusia, baik yang beriman maupun tidak. Untuk itulah Dia datang ke dunia. Menyelam at manusia dari dosa. Karena Allah mengasihi manusia.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus [Isa Al-Masih] telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Injil, Surat Roma 5:8).
~
DA
# cak gimin 2013-04-08 10:24
*
Jika dalam Kristen tidak dibolehkan bercerai maka berarti, dalam ajaran Kristen ada kelonggar akan hal-hal kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan. Mengapa? Karena jika pasangan suami istri Kristen melakukan hal tersebut berulang-ulang, tidak ada jalan penyelesaian, tidak dibolehkan bercerai. Jadi bisa berbuat semaunya.

Perceraian adalah solusi terakhir jika sudah tidak ada jalan penyelesaian.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-04-16 09:17
~
Saudara Cak Gimin,

Benar, perceraian tidak dibenarkan Allah. Isa Al-Masih dengan tegas memberitahukan bahwa: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).

Lalu apakah karena tidak boleh bercerai maka ada kelonggaran kekerasan rumah tangga, perselingkuhan atau berbuat seenaknya? Tidak.

Perhatikan firman Allah ini, bagaimana suami Kristen harus memperlakukan istrinya. "Hai suami-suami kasihilah isterimu, dan janganlah berlaku kasar terhadap dia" (Injil, Surat Kolose 3:19). Suami yang mengasihi isterinya tentu tidak akan menyakiti secara fisik, dan menyakiti hati isterinya, bukan? Penjelasan selengkapnya baca di sini: tinyurl.com/74wwgmd

Memang setiap rumah tangga memiliki permasalahan, tetapi bagi pengikut Isa Al-Masih perceraian bukanlah jalan keluarnya. Seseorang yang mengerti ajaran Isa Al-Masih, tentu akan berpegang pada ajaran-Nya dan datang kepada-Nya. Karena Isa Al-Masih dapat membentuk hati kita menjadi baru, agar suami-istri dapat mengasihi sebagaimana semestinya. Bukankah setiap rumah tangga ingin memiliki keluarga yang harmonis?
~
DA
# cak gimin 2013-04-08 10:38
*
"Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah, dibolehkan tapi tidak disukai Allah” adalah pernyataan yang bertolak-belakang.

Kata siapa? arti dari kata “tapi” adalah kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras, itu benar. Tetapi semua berbalik kepada fungsi dan artikulasi kalimat yang ada.

Contoh: "anda boleh makan makanan itu, tapi nanti saja (jangan disini)"
Apakah kata tapi tersebut bertolak belakang antara boleh dan tidak? kata tapi tersebut hanya penegasan dalam bentuk persyaratan, makanan itu boleh dimakan dengan syarat nanti saja atau jangan di sini. Begitu juga dengan kata tapi dalam hadist tersebut, boleh dilakukan tetapi si pelaku diberitahu jika tindakan cerai adalah tindakan jelek.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-04-16 09:27
~
Saudara Cak Gimin,

Mari perhatikan lagi contoh yang saudara Cak buat dan hadist tersebut, jelas fungsi dan artikulasi kalimatnya berbeda, bukan?

"anda boleh makan makanan itu, tapi nanti saja (jangan disini)" artinya tetap diperboleh hanya ditunda waktunya.

Sedangkan "Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah, dibolehkan tapi tidak disukai Allah” Artinya dibolehkan dan dibenci, kapanpun waktunya cerai dibenci.

Saudara Cak Gimin, menurut saudara siapa yang menghalalkan/me mperbolehkan perceraian, Allah bukan? Lalu siapa yang membenci/yang menyatakan jelek perceraian itu, Allah bukan?

Apakah Allah berkenan dengan sesuatu yang dibenci/disebut jelek, tidak bukan? Lalu mengapa Allah memperbolehkan yang dibenci/jelek dilakukan?

Nah, bukankah di sini bertolak belakang. Allah sendiri yang mengijinkan tetapi Allah pula yang membencinya.
~
DA
# cak gimin 2013-04-27 08:33
*
Saudara staf IDI,

Jika anda membedakan secara artikulasi kalimat jelas berbeda antara hadist dan contoh kalimat saya. Tetapi di sini kita bicara fungsi kata tapi.

Jika dalam hadist yang melarang dan membolehkan adalah Allah itu benar. Allah dalam hal ini menjadi subjek. Dalam contoh kalimat yang membolehkan dan melarang untuk makan adalah tetap subjek yang sama.

Jadi yang melarang dan membolehkan tetap subjek yang sama, bukankah begitu saudaraku? Lalu apanya yang berbeda? Bukankah sama-sama subjek yang melarang dan membolehkan akan contoh kalimat saya dan hadist tersebut?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-04-30 16:22
~
Saudara Cak Gimin,

Sebenarnya pernyataan “dihalalkan” dan “dibenci” atau “dibolehkan” dan “dilarang” sudah dijelaskan dalam kolom komentar di atas.

“Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah” adalah dua ungkapan yang digabungkan dengan kata “tapi”. Bila kita melihat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti dari kata “tapi” adalah kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras.

Demikian kata “dihalalkan” bertentangan atau tidak selaras dengan kata “dibenci”, bukan?

Subyek yang sama menyatakan dua pernyataan yang berlawanan. Dia yang mengijinkan perceraian, lalu Dia pula yang membencinya. Apakah Allah ragu-ragu dengan firman-Nya? Sungguh tidak masuk akal!
~
DA
# iwan 2013-05-06 06:15
*
Artikel anda sangat subjektif. Kalau memang ingin mengkaji secara ilmiah buat diskusi secara terbuka dari kedua pihak Islam maupun Kristiani.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-05-13 14:47
~
Saudara Iwan,

Terima kasih atas komentar dan masukannya.

Bila saudara Iwan merasa ada yang tidak benar dari artikel di atas, saudara dapat meng-email kami dan kita diskusikan bersama. Untuk itu silakan email kami di

Terima kasih.
~
DA
# ardiyansyah 2013-06-02 17:32
*
Salam,

Karena pengetahuan saya yang sedikit, saya hanya ingin sedikit menjelaskan tentang perceraian dalam Islam. Dalam Islam, dasar hukum yang di pegang adalah Al-Quran dan Al-Hadits. Yang anda kutip pada artikel anda hanya beberapa penggal ayat saja yang terdapat dalam Al-Quran. Masih ada Al-hadits yang menjelaskan tentang perceraian dalam Islam.

Dalam suatu hadits menjelaskan ada 4 macam perceraian, yaitu wajib, haram, makruh, dan mandub (sunah). Jadi Allah SWT tidak hanya menghalalkan perceraian saja, ada kasus-kasus tertentu yang mengharamkan sebuah perceraian.
Terima kasih.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-06-05 16:49
~
Saudara Ardiyansyah,

Terima kasih atas penjelasan saudara.

Sepertinya dalam ajaran Islam terdapat beberapa kelonggaran khususnya dalam hal pernikahan. Diantaranya pernikahan yang tidak harmonis dapat diakhiri dengan perceraian.

Tentang pernikahan, sepertinya Islam hanya melihat dari sisi pria/suami. Misalnya poligami. Syarat yang diajukan hanya “bila suami”. Pernahkah Islam melihat apakah si istri senang bila suaminya mengambil istri lain? Jelas tidak satu pun istri merasa bahagia bila suaminya mempunyai wanita lain, bukan?

Demikian dengan perceraian, walau Islam menetapkan beberapa aturan dalam perceraian, sayangnya, dalam prakteknya tidaklah demikian. Justru dengan adanya ijin perceraian yang diberikan, menjadi satu motivasi/alasan bagi sepasang suami-istri untuk bercerai.

Maka, apapun alasan atau kondisinya, poligami dan perceraian bukanlah jalan keluar dari permasalahan yang terjadi dalam sebuah pernikahan. 

Firman Allah berkata, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Markus 10:9).
~
DA
# mh. 2013-06-23 04:11
*
Tahukah anda bahwa Injil pun mengharamkan babi?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-06-26 08:39
~
Saudara Mh,

Dalam Injil, ajaran Isa Al-Masih tentang hal yang haram atau halal.

" ... bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang"... apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat” (Injil, Rasul Besar Matius 15:11,18,19).

Babi yang hanya berkenaan dengan makanan begitu penting sehingga diharamkan. Bagaimana dengan perceraian, bukankan ini berdampak negatif bagi keluarga?
~
DA
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-07-10 17:39
~
Saudara Mh,

Maaf kami menghapus komentar Saudara Mh, karena pertanyaannya sama. Silakan membaca jawabannya di atas komentar ini.

Bila Saudara Mh ingin membahas lebih inten silakan mengemail staf kami di
~
DA
# niko 2013-07-27 07:56
*
“Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah" (Injil, Rasul Besar Matius 19:8-9).

Dua hukum Tuhan yang saling bertentangan bagi Musa diperbolehkan perceraian tapi bagi Isa Al-Masih dilarang. Apa yang menyebabkan Tuhan plin plan?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-07-31 16:32
~
Saudara Niko,

Mari perhatikan kontek dari Injil, Rasul Besar Matius 19:8-9. Ayat tersebut merupakan percakapan antara Isa Al-Masih dengan orang Farisi yang mencobai-Nya.

Perhatikan ayat 7, “Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?".

Bukan Musa yang memperbolehkan bercerai, tetapi karena keinginan orang tersebut. Artinya yang telah melanggar ketetapan Allah tentang pernikahan.

Kemudian ditegaskan oleh Isa Al-Masih pada ayat 8, “Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”.

Jelas bahwa Musa mengijinkan memberi surat cerai karena ketegaran hati orang tersebut, bukan karena diperbolehkan bercerai. Karena sejak semula Allah yang menetapkan pernikahan untuk dijadikan satu bukan dipisahkan.
~
DA
# arieyansyah 2013-07-29 11:49
*
Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2012-09-27 16:22
~
Saudara Pfaishall,

Sepertinya saudara sudah salah dalam memberi penilaian kepada kami. Tujuan kami bukan untuk menjelekkan agama Islam atau siapapun. Tujuan website ini untuk tempat saling bertukar-pikira n tentang hal-hal yang berhubungan dengan wanita dan kepercayaannya.

Jika Saudara menemukan bahwa ternyata apa yang kami tulis adalah salah, maka tentu Saudara boleh memberi masukan kepada kami. Sehingga kita dapat memperoleh manfaat dari sini, terima kasih.
~_______________

Terus kalau sudah dapat manfaat anda mau mempertimbangka n tetap di agamamu atau pindah agama begitu? Mohon jelaskan.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-07-31 16:34
~
Saudara Arieyansyah,

Ketika kita saling bertukar pikiran, diperlukan saling keterbukaan. Memang mungkin ada yang tidak sependapat dengan kita, atau sebaliknya. Sehingga menjadi pemahaman baru bagi kita, bukan?

Melalui forum ini bukan untuk memaksa kehendak kami ataupun mengajak untuk pindah agama. Tujuan kami adalah untuk menyampaikan kebenaran yang bukan berasal dari pikiran kami. Kami hanya menyampaikan kebenaran yang berasal dari firman Allah.

Kenapa pula kita mencoba menghindar atau tidak acuh jika kelihatannya kebenaran itu berkeinginan untuk mau menyapa kita?

Tetapi semua kembali kepada setiap individu bukan?
~
DA
# adhy 2013-08-07 00:26
*
Kontroversi apakah perceraian dan pernikahan diijinkan oleh Alkitab berkisar pada kata Yesus dalam Injil, Rasul Besar Matius 5:32 & 19:9. Frasa “kecuali karena zinah” adalah satu-satunya alasan dalam Alkitab dimana Tuhan memberikan izin untuk perceraian dan pernikahan kembali.

Paulus mengatakan dengan tegas: seorang istri tidak boleh menceraikan suaminya dan seorang suami tidak boleh menceraikan istrinya” (Injil, Surat 1 Korintus 7:10-11). Tetapi kalau pihak yang tidak beriman itu mau bercerai, Paulus mengatakan: ”Biarlah ia bercerai” (Injil, Surat 1 Korintus 7:15).

Jika seorang diceraikan berdasarkan Alkitab, dia akan bebas untuk menikah lagi (Taurat, Kitab Ulangan 24:2). Jika mereka diceraikan tidak berdasarkan Alkitab dan mereka menikah lagi, maka pernikahan yang kedua akan menjadi “hidup dalam perzinahan”. Apakah ini suatu ijin untuk melakukan cerai dalam Kristen?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-08-13 21:49
~
Saudara Adhy,

Menurut Alkitab Firman Allah pernikahan diadakan atas kehendak Allah. Pernikahan itu kudus, dimana dua insan [hanya satu pria dengan satu wanita] yang sudah dewasa atas dasar kasih yang murni sepakat membangun rumah tangga. Kemudian hanya maut yang berhak menceraikan mereka di dunia ini.

Jelas, Alkitab Firman Allah memandang perceraian sebagai pemberontakan akan hukum Allah. Namun jika terjadi perzinahan maka dibutuhkan pengampunan yang luar biasa untuk suami atau istri mau mengampuni pasangannya yang berzinah dan mengajak pasangannya itu bertobat kepada Allah. Sehingga tidak harus bercerai.

Tetapi jika pilihannya bercerai maka mereka harus siap hidup tanpa pendamping. Sebab adalah zinah hukumnya jika mereka menikah lagi.

Ada tertulis” Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."...Lal u kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah" (Injil Rasul Besar Markus 10:6-12).
~
NN
# double punch 2013-08-07 07:25
*
Baca statement ini > "Tujuan kami bukan untuk mengundang konflik. Tetapi untuk saling bertukar-pikira n tentang hal-hal yang berhubungan dengan wanita dan kepercayaannya".

Tapi ujung-ujungnya selalu memihak Kristen. Jangan sembarang copy ayat Al-Quran kalau tidak tahu makna dan kandungannya, perlu ahli tafsir, kasihan sekali yang bikin situs ini. pelajari Islam secara benar, baru berstatement.

Sekarang saya ajak staff berpikir secara logis. Kalau memang kalian merasa sudah "benar" kenapa harus membandingkan sesuatu seolah butuh dukungan untuk pembenaran? Apa manfaat dari situs ini sebenarnya?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-08-13 22:13
~
Saudara Double Punch,

Apa yang kami sampaikan adalah berdasarkan fakta kebenaran yang ada. Kami tidak membuat tulisan yang mengada-ngada atau hanya karangan pikiran manusia. Kami pun mempelajari Islam dan menggali Kitab saudara, bukan hanya sembarangan mengutip ayat.

Saudaraku,maaf kami harus menghapus beberapa komentar saudara karena lebih dari satu kolom. Itu sesuai dengan aturan dalam situs ini. Menurut saudara apakah Allah menghalalkan perceraian sedangkan makan babi diharamkan?
~
NN
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-08-30 09:11
~
Terima kasih atas kesetiaan saudara-saudara mengunjungi dan memberikan komentar pada situs kami.

Saran kami, dalam memberi komentar kiranya saudara dapat mengikuti aturan yang sudah kami cantumkan pada setiap artikel yang ada di situs ini.

Berikut kami copy kembali aturan tersebut:
(1) Tidak boleh memakai lebih dari satu kotak.
(2) Pertanyaan / masukan harus berhubungan erat dengan uraian.
(3) Sebaiknya satu atau paling dua pertanyaan / konsep dimasukan dalam satu comment.
(4) Masukan harus selalu sopan dan jangan agresif.
(5) Masukan tidak boleh memuat banyak bahasa lain, misalnya Bahasa Arab.
(6) Masukan harus dalam Bahasa Indonesia yang lazim dimengerti semua orang.
(7) Masukan tidak boleh memakai singkatan-singk  atan, misalnya yg, dlm, sdh,dlsbgnya.
(8) Huruf besar tidak boleh dipakai untuk menekankan sesuatu.
(9) Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.

Kami mempersilakan Saudara mengemail  untuk pertanyaan / comment yang majemuk. Kami senang menjawabnya.
~
DA
# Lala 2013-09-05 12:23
*
Koreksi saja untuk artikel di atas. Dalam Islam ada 5 hukum. Setiap perihal memiliki hukum asalnya, dan hukum asal bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang berlaku. Ya, begitulah Islam. Fleksibel, tidak memberatkan, namun juga tidak boleh diringankan.

Sebagai contoh, cerai. Hukum asalnya adalah makruh (boleh tetapi sangat di benci Allah). Namun jika kondisi rumah tangga tersebut:
- harmonis dan taat kepada Allah, maka hukum bercerai menjadi haram.
- kacau balau seperti suami pemabuk, sering menganiaya, dan tidak bisa diajak pada kebaikan, maka hukum bercerai menjadi wajib.

Mengapa Islam mengatur tata cara bercerai padahal itu amat dibenci Allah? Karena ajaran Islam sempurna. Allah tahu di dunia ini tidak hanya ada orang taat saja, terima kasih.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-09-10 16:00
~
Saudara Lala,

“Boleh tetapi dibenci Allah”, benarkah Allah kompromi dengan yang dibenci?

Walau Islam menetapkan beberapa aturan dalam perceraian, sayangnya, dalam prakteknya tidaklah demikian. Justru dengan adanya ijin perceraian yang diberikan, menjadi satu motivasi/alasan bagi sepasang suami-istri untuk bercerai.

Maka, apapun alasan atau kondisinya, perceraian bukanlah jalan keluar dari permasalahan yang terjadi dalam sebuah pernikahan. Bukankah setiap orang mempunyai hak untuk bertobat, mengapa justru dicerai?

Namun, Allah dalam Injil menegaskan bahwa tidak membenarkan perceraian.
Mari perhatikan sabda Isa Al-Masih: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).
~
DA
# Musi 2013-09-09 20:50
*
Saya jadi tertawa geli membaca website anda ini. Anda bersusah payah membuatnya untuk menyebarkan paham anda. Jelas anda bukan orang Islam, pakai nama Isa Islam?

Anda tidak paham terminologi Islam dengan memaksakan terjemahannya ke dalam KBBI.
Perintah dan larangan dalam Islam bertingkat-ting kat. Karena Islam itu tegas dan detil: Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, Haram. Semua ada artinya. Agama anda tidak detil dan tidak punya ini. Jadi wajar anda tidak paham.

Statement perceraian halal tapi dibenci, itu adalah ungkapan umum, sama sekali bukan hukumnya. Hukum dasar perceraian memang mubah (boleh). Bisa menjadi wajib, sunnah, makruh, atau haram sesuai kondisi yang melingkupinya. Di situlah kelebihan Islam.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-09-17 15:03
~
Saudara Musi,

Website ini diberi nama Isa Islam, karena membahas tentang ajaran Isa Al-Masih yang merupakan isu utama baik di dalam agama Kristen dan Islam, yaitu dalam Alkitab dan Al-Quran.

Dan secara khusus website ini bermaksud untuk membahas, bagaimana seharusnya wanita diperlakukan sesuai dengan kebenaran firman Allah. Sehingga kita dapat berbagi dan belajar bersama.

Bila menurut saudara ada yang lucu atau salah dalam artikel-artikel nya, silakan saudara memberi penjelasan.

Memang Injil dan Al-Quran memberi pandangan yang berbeda tentang perceraian. Al-Quran menghalalkan perceraian, “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik” (Qs 2:229).

Isa Al-Masih mengajarkan kepada pengikut-Nya untuk tetap memegang teguh hukum Allah tentang pernikahan. Serta menegaskan bahwa perceraian sama sekali tidak dibenarkan oleh Allah. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).
~
DA
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-09-17 15:12
~
Saudara Aslan,

Maaf kami menghapus komentar saudara. Bila saudara ingin membahas tentang Alkitab silakan beralih ke url ini: tinyurl.com/cogqxrh

Bila ingin membahas topik yang lain silakan kirimkan komentar saudara di

Terima kasih dan harap maklum.
~
DA
# bambang 2013-09-25 03:45
*
Perceraian itu suatu momok bagi para suami yang benar-benar dambakan keutuhan rumah tangga.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-09-26 16:10
~
Saudara Bambang,

Kami sependapat dengan saudara, setiap rumah tangga pasti mendambakan keutuhan, kelanggengan dan hanya maut yang memisahkan. Seperti janji yang diucapkan sebelum memasuki mahligai rumah tangga, kedua mempelai mengucap janji untuk sehidup semati di hadapan Allah dan dihadapan para saksi.

Kami percaya tidak semua pasangan ketika terjadi masalah dalam rumah tangganya, mengambil tindakan yang tragis yaitu bercerai. Demikian pengikut Isa Al-Masih yang telah mengenal kebenaran bahwa bercerai tidak berkenan dihadapan Allah.

Dan ketika suami istri menyadarai bahwa mereka terikat dalam tali pernikahan yang diprakarsai oleh Allah maka perceraian tidak ada dalam kamus rumah tangga mereka. Dan kasih adalah inti dari sebuah keharmonisan keluarga.

Bagaimana peranan suami dan istri sehingga tercipta rumah tangga yang harmonis? Silakan baca di sini tinyurl.com/oeyxl3p
~
DA
# cinta 2013-09-26 16:24
*
Jika ingin mengkaji perihal perceraian dalam agama Islam, mohon mengkaji dulu perihal pernikahan dalam Islam. Ada hukum-hukum pelaksanaan pernikahan: wajib, sunah, haram, mubah. Lebih baik kaji dulu makna haram, halal, wajib, sunah, mubah. Ada banyak hukum dalam ajaran Islam.

Setelah anda mengkaji pernikahan dari hukum, syarat-syaratny a baru masukan ke dalam kajian perceraian. Bagaimana jika kita bisa menggunakan daya kritis kita untuk memperdalam keyakinan kita masing-masing. Untuk menjadi insan yang lebih baik dan bukan hanya menjadikan perdebatan dan penghakiman terhadap sesuatu.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-09-27 15:59
~
Saudara Cinta,

Terima kasih atas masukannya. Maaf kami menghapus salah satu komentar saudara karena lebih dari satu kolom.

Kami sependapat dengan saudara Cinta, kita bisa berpikir kritis untuk memperdalam keyakinan masing-masing. Untuk itulah melalui forum ini kita dapat belajar bersama dan bertukar pikiran. Jadi bukan mendebatkan dan menghakimi terhadap sesuatu.

Pada topik di atas membahas "Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah”. Cobalah pikirkan, Allah membenci perceraian tetapi juga memperbolehkann ya. Benarkah Allah kompromi dengan yang dibencinya?

Lantas, apakah standart yang diberikan oleh Muhammad mengenai kekudusan pernikahan?

Jadi, apapun alasan atau kondisinya, perceraian bukanlah jalan keluar dari permasalahan yang terjadi dalam sebuah pernikahan.

Firman Allah berkata, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Markus 10:9).
~
DA
# jiatsun mami 2013-10-03 08:57
*
Singkat saja timbulnya dan penyebar penyakit kelamin khususnya aid/hiv adalah dari negara mayoritas pemakan babi. Di sana pula letak kiblat agama anda. Lagi, penjajah, perampok, pembunuh, pemerkosa di pelbagai belahan dunia ini, yang selalu menciptakan mesin pembunuh termodern mayoritas babi juga.

Diantara semua di atas tak ada satupun negara Muslim. Keindahan Islam jelas mengajarkan diantaranya sebagai mahluk sosial selalu menjunjung kebersamaan saling memberi dan mengisi.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-10-04 12:18
~
Saudara Jiatsun Mami,

Pengikut Isa Al-Masih tidak pernah memiliki kiblat ke suatu arah tertentu. Dari tulisan saudara kami bisa menilai pengetahuan saudara mengenai kekristenan jauh menyimpang.

Hanya orang Islam yang memiliki kiblat, bahkan bila tidak dilakukan maka sholat yang dilakukan tidak sah. Dan agama Kristen tidak seperti itu, sebab Tuhan ada di mana saja. Allah melihat jauh ke dalam hati kita!

Katakanlah seperti yang saudara ungkapkan “Islam mengajarkan diantaranya sebagai mahluk sosial selalu menjunjung kebersamaan saling memberi dan mengisi”. Lalu mengapa mengajarkan/ada perceraian?

Jelas perceraian tidak berkenan di hadapan Allah. “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel” (Kitab Nabi Maleakhi 2:16).
~
DA
# Aisyah Safa 2013-10-07 16:36
*
Saya seorang Muslim dan saya paham Al-Quran. Sepotong ayat yang anda ambil tentang perceraian itu tidak berlaku untuk umum, karena itu firman Allah yang hanya untuk para Nabi saat itu

Kedua, surat Annisa yang kamu ambil sepotong ayatnya itu ada penjelasan di ayat sebelumnya dan di ayat sesudahnya. Jadi halal tapi dibencinya perceraian bukan karena tanpa alasan.

Mengutip ayat sepotong-sepoto ng seperti ini yang menyesatkan orang. Apalagi penulis adalah orang yang di Al-Quran ditetapkan dalam golongan kafir!
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-10-08 15:43
~
Saudara Aisyah Safa,

Bila ayat tentang perceraian di atas khusus untuk nabi saat itu, bagaimana dengan perceraian dalam umatnya diperbolehkan atau tidak dan berdasarkan apa?

“Halal tapi dibenci”, sesuatu yang haram wajar dibenci, tetapi yang halal? Bagaimana mungkin Allah membenci sesuatu yang halal?

Saudara Aisyah Safa, kami adalah pengikut Isa Al-Masih. Sebagai orang Muslim dan yang paham Al-Quran tentu saudara tahu bagaimana kedudukan pengikut Isa Al-Masih.

Berikut kitab saudara dengan jelas mengatakan bahwa: “menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu [Isa Al-Masih] di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. . . " (Qs 3:55).
~
DA
# Kuncoro 2013-10-17 08:19
*
Bagaimana bisa Isa memperbaiki atau berpendapat mengenai perkawinan, sedangkan beliau sendiri tidak mempunyai pasangan dan tidak menikah?

Apa yang akan kalian jadikan acuan dari kehidupan Isa ke kehidupan pernikahan?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2013-10-17 10:46
~
Saudara Kuncoro benar, Isa Al-Masih tidak menikah.

Namun ketika datang ke dunia Isa Al-Masih mengajarkan dan menegaskan kembali bahwa Allah tidak menghendaki poligami dan perceraian. Isa Al-Masih bersabda: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).

Apa yang dapat dijadikan acuan dari kehidupan Isa Al-Masih untuk pernikahan kita?
Mari kita perhatikan teladan Isa Al-Masih:

Firman Allah dalam Injil, Surat Efesus 5: 25-27: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus [Al-Masih] telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela".

Isa Al-Masih memberi teladan mengasihi jemaat hingga menyerahkan nyawa-Nya. Demikian dalam setiap pernikahan suami dapat meneladani kasih Isa, untuk mencintai istrinya dan membantu memandu mereka berdua dalam pertumbuhan untuk lebih dekat kepada Allah.
~
DA
# nanang 2014-01-24 07:02
~
Kutipan: "Lalu, mengapa banyak janda-janda berkekurangan?" Anda meragukan kemampuan Allah?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-01-24 14:57
~
Saudara Nanang,

Bukankah tidak dapat kita pungkiri, banyak di sekitar kita janda-janda berkekurangan, bukan?
Apa mungkin Allah mengingkari janjinya? Tidak bukan. Bagaimana menurut saudara?

Qs 4:130 tersebut menghalalkan perceraian. Bukankah perceraian mengakibatkan dampak negatif permanen bagi suami-istri bahkan anak dan keluarga besar?

Sebaliknya Isa Al-Masih datang ke dunia untuk memperbaiki kontradiksi seperti itu. Ia ingin membentuk hati kita menjadi baru, agar suami-istri dapat mengasihi sebagaimana semestinya. Pembaharuan ini dapat dialami setiap rumah tangga.
~
Daniar
# widodo_ds 2014-03-05 18:30
~
Semua ajaran Kristen tentang perkawinan dan martabat wanita runtuh. Yesus seorang pria dan bukan wanita berarti Allah Bapa melakukan diskriminasi.Ye sus tidak berkeluarga, bagaimana dia bisa memberikan ajaran dan teladan cara hidup berkeluarga.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-03-10 14:06
~
Saudara Widodo,

Terima kasih atas komentarnya. Kami sudah pernah menjawab pertanyaan saudara di atas, silakan dibaca kembali.

Dan kami tekankan lagi bahwa tidak ada diskriminasi, di hadapan Allah, pria dan wanita seimbang. Jadi, pria tidak lebih tinggi atau lebih berharga daripada wanita. "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka" (Taurat, Kitab Kejadian 1:27).

Saudara Widodo benar, Isa Al-Masih tidak berkeluarga. Tetapi Ia mengasihi dan menghormati wanita. Dia rela berkorban di kayu salib demi kasih-Nya kepada manusia, untuk menyediakan jalan keselamatan yang kekal di sorga. Bukankah para suami dapat mencontoh teladan tersebut?

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Injil, Surat Efesus 5:25).
~
Daniar
# wiwiek 2014-03-05 18:35
~
"Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus [Al-Masih] telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela" (Injil, Surat Efesus 5:25-27).

Apa hubungan jemaat dengan istri? Yesus tidak bisa memberi ajaran dan teladan tentang hidup berkeluarga karena dia sendiri tidak menikah.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-03-10 14:18
~
Saudara Wiwiek,

Isa Al-Masih dengan jemaat digambarkan sebagai hubungan yang sangat dekat. Demikian suami dengan istri.

Ayat di atas menunjukkan bagaimana Isa Al-Masih memperlakukan jemaat/umat-Nya dengan kasih. Sehingga para suami dapat mencontoh teladan tersebut, dalam mengasihi istri.
~
Daniar
# mevi 2014-03-10 14:42
~
Orang beragama Islam juga ada yang memahami agamanya dengan baik, ada juga yang tidak. Demikian halnya dengan pemeluk agama Kristen. Karena saya juga membaca tulisan anda selalu mendiskriminasi aturan dalam Islam.

Jika pengetahuan anda terbaik adalah Alkitab maka jalankan saja itu dengan baik. Dan berdakwahlah dengan benar agar umat Kristiani juga yang belum mendalam agamanya bisa dapat pencerahan dari situs ini. Tanpa mencampur aturan dalam agama Islam. Perpecahan yang memicu konflik umat beragama sudah sangat banyak. Maka mohon bijaksanalah dalam berdakwah. Bagiku agamaku dan bagimu agamamu, mari hidup berdampingan dengan cara yang baik.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-03-12 16:57
~
Saudara Mevi,

Terima kasih atas masukannya. Kiranya tidak salah paham dengan maksud dari situs ini, untuk itu silakan dibaca di sini: tinyurl.com/cz7hez3

Kami kira bila kita mau dengan rendah hati saling berbagi dan belajar bersama, kita dapat menciptakan suasana nyaman dan damai.

Bagaimana menurut saudara Mevi mengenai perceraian pada artikel di atas?
~
Daniar
# hamba ALLAH 2014-03-28 10:00
~
Untukmu agamamu, untuk ku agama ku. Jadi kitab anda jangan pernah disamakan atau dibandingkan dengan Al-Quran sebagai kitab sempurna. Penutup kitab sebelumnya (Zabur, Taurat, Injil). Semua yang terakhir itu pasti sudah lebih sempurna dari ajaran awal.

Intinya perceraian itu dibenci Allah dan halal. Maknanya pernikahan manusia yang memilih. Manusia bisa salah pilih tapi Allah tidak pernah salah. Sehingga Allah memberi kelonggaran boleh cerai halal tapi Allah benci perbuatan itu. Ini maknanya dalam, jangan anda jabarkan dengan bahasa saja. Tidak sanggup otak manusia mencerna maknanya.

Alkitab yang anda ikuti itu sudah disempurnakan dengan kitab Al-Quran yang terbaru dan sempurna jangan yang lama.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-04-04 17:05
~
Saudara Hamba Allah,

Firman Allah adalah apa yang ingin Allah beritahukan untuk diketahui dan dilakukan manusia. Bila ajaran/ketetapa n Allah itu tidak sanggup dicerna otak manusia, bagaimana manusia melakukan kehendak Allah tersebut?

Adalah jelas Allah membenci perceraian, artinya perceraian tidak berkena dihadapan Allah, bukan?
Allah tidak kompromi dengan dosa. Baik Kitab Suci Allah maupun kitab saudara memberi tahukan bahwa dosa memisahkan kita dengan Allah dan tempatnya di neraka kekal.

“Yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu . . . ialah segala dosamu” (Kitab Nabi Besar Yesaya 59:2).

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka Jahannam” (Qs 40:46).

Menurut saudara Kitab suci Allah disempurnakan dengan Al-Quran. Benarkah Wahyu Allah yang terdahulu tidak sempurna, sehingga harus disempurnakan? Selengkapnya dapat saudara bahas di link ini: tinyurl.com/7dozslb
~
Daniar
# cixko kid 2014-05-08 08:08
~
@
Adalah jelas Allah membenci perceraian, artinya perceraian tidak berkena dihadapan Allah, bukan?
Allah tidak kompromi dengan dosa. Baik Kitab Suci Allah maupun kitab saudara memberi tahukan bahwa dosa memisahkan kita dengan Allah dan tempatnya di neraka kekal.

>>>>>
Di sinilah nampak kekacauan berpikir anda, yang namanya perbuatan halal perceraian itu tidak ada resiko dengan dosa resiko perceraian adalah dimurkai Tuhan,

Di sinilah nampak sempurnanya Islam dibanding kacaunya ajaran Kristen bahwa perceraian beresiko neraka kekal.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-05-13 15:58
~
Saudara Cixko Kid,

Bagaimana menurut saudara dengan pernyataan ini: “Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah, dibolehkan tapi tidak disukai Allah”

Allah yang mengijinkan perceraian, lalu Allah pula yang membencinya. Apakah Allah ragu-ragu dengan firman-Nya? Sungguh tidak masuk akal!

Saudara Cixko, adalah jelas bahwa Allah membenci/melara ng perceraian. Pelanggaran terhadap ketetapan Allah adalah dosa.
~
Daniar
# Bedoel 2014-05-30 00:25
~
Dari judul tulisan, sudah jelas dan terang pak: Perceraian Halal, Babi Haram?

Tapi kalau ditukar menjadi: Babi Halal, Perceraian Haram?

Berarti saya sebagai Muslim sudah jelas dan terang dengan Bapak sebagai Umat Kristiani, berbeda!!!

Kita buktikan saja hasil polling dan finalnya nanti dihadapan yang maha Kuasa, Amin.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-06-06 14:55
~
Saudara Bedoel,

Pada topik di atas membahas "Perceraian dalam Islam dihalalkan tapi dibenci Allah”. Cobalah pikirkan, Allah membenci perceraian tetapi juga memperbolehkann ya. Benarkah Allah kompromi dengan yang dibenci?

Lantas, apakah standart yang diberikan oleh nabi saudara Bedoel mengenai kekudusan pernikahan?

Saudaraku, menurut saya sekarang waktu yang tepat untuk merenungkan dan membuktikan. Bila nanti akan terlambat karena saat itu vonis sudah dijatuhkan dan tidak ada waktu untuk berbalik kepada Kebenaran.
~
Daniar
# Pengamat 2014-10-05 21:21
~
Tuhan mu aja bujangan alias tidak hidup berumah tangga. Bagaimana Dia mau mengajarkan tentang hidup berumah tangga kalau Dia sendiri tidak berumah tangga?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-10-07 15:56
~
Salam Sdr. Pengamat,

Manakah lebih baik ajaran Isa Al-Masih yang tidak menikah tetapi memberikan solusi terbaik bagi pernikahan. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).

Atau ajaran Muhammad, “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri–istrimu maka hendaklah kamu ceraikan pada waktu mereka dapat iddahnya dan hitunglah waktu iddah itu serta bertawakkalah kepada Alloh SWT. Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang” (Qs 65:1).
~
Salma
# Pengamat 2014-10-22 03:14
~
Tuhan menciptakan manusia untuk hidup berpasang-pasan gan, agar manusia menuai kesempurnaan hidup dan itu dibentuk melalui pernikahan.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-10-27 07:33
~
Salam Sdr. Pengamat,

Apakah kesempurnaan menurut saudara, ketika seseorang telah menikah yaitu dengan satu wanita dan satu pria. Dan kemudian agar memiliki kesemurnaan dalam berpasangan, maka seorang pria kan menceraikan isterinya dan menikah lagi? Atau bagaimanakah menurut pandangan saudara perihal kesempurnaaan dalam berpasang-pasangan?

Kami sangat senang jika saudara memberikan pemaparan perihal pernyataan saudara. Terimakasih, Tuhan memberkahi saudara dan keluarga.
~
Salma
# may in 3d 2014-11-22 10:22
~
Saya tidak yakin dari mana Anda mendapatkan informasi tersebut namun topiknya bagus.
Saya ingin meluangkan waktu untuk mempelajari dan memahaminya lebih lagi.
Terimakasih untuk informasi yang selama ini saya cari.

Catatan dari Admin: Karena situs ini kami tujukan bagi pembaca berbahasa Indonesia/Melay u, komentar Anda kami terjemahkan dalam bahasa Indonesia.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-11-24 13:04
~
Sdr. May In 3d,

Terimakasih untuk komentar Anda atas artikel kami.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut untuk didiskusikan, silahkan menghubungi kami melalui alamat email berikut:

~
Yuli
# wanita muslimah 2014-11-23 18:53
~
“Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.” (Qs 2:139)
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2014-11-24 13:06
~
Sdri. Wanita Muslimah,

Terimakasih untuk ayat Al-Quran yang Anda tuliskan.

Kami tidak sedang memperdebatkan Allah. Siapakah kami sehingga berani memperdebatkan Sang Khalik yang berada jauh melampaui keterbatasan akal budi manusia? Kami hanya menyampaikan kehendak Allah, sejauh yang difirmankan-Nya di dalam Kitab Suci.

Sesuai dengan topik bahasan tentang perceraian, Allah dengan tegas tidak menghendakinya:

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6)

Jadi, manakah yang hendak Anda turuti, keinginan Allah, atau keinginan manusia yang penuh dengan dosa?

~
Yuli

Isadanislamstudi2

* Untuk bisa masuk ke pelajaran kursus ini, non-aktifkan 'pop-up blocker' komputer Saudara dengan meng-klik di sebuah 'bar' di bawah 'status bar' di bagian atas layar komputer