Al-Quran dan Hadits Tentang Sunat Perempuan

pisau bedahFemale Genital Mutilation (FGM) atau sunat perempuan masih menjadi pro dan kontra di berbagai negara. Ulama Islam di Indonesia pun mempunyai pandangan berbeda tentang hal ini. Bagaimana sebenarnya ajaran Al-Quran dan hadits tentang sunat perempuan?

Uraian berikut akan menolong Anda memahami apakah FGM bagian dari ajaran agama? Apakah FGM mempengaruhi bagaimana wanita diperlakukan atau didiskriminasi?

Al-Quran, Hadist, dan FGM

Tidak ada ajaran Al-Quran tentang sunat perempuan. Satu-satunya dasar praktik sunat perempuan adalah hadits. Diriwayatkan oleh Ummu Atiyyah, “Dia [Muhammad], memerintahkan kepadanya untuk ‘memotong sedikit dan tidak melebih-lebihkannya, karena yang demikian itu lebih menyenangkan bagi perempuan dan lebih baik bagi suaminya.’”

Namun terdapat hadits versi lain yang berbeda bahkan terkadang bertentangan, yang mana hal itu dapat mengurangi kredibilitas hadits di atas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sunat perempuan tidak memiliki dasar yang kuat baik dalam Al-Quran maupun hadits, bukan? Jika Anda punya pandangan lain, silakan mengemail kami!

FGM Adalah Tradisi, Bukan Ajaran Agama!

Tidak ada informasi yang jelas perihal asal-usul praktik FGM. Walau diyakini FGM sudah dilakukan secara meluas pada masa Mesir Kuno atau pra-Islam. Sehingga ada kemungkinan Mesir-lah yang pertama kali mempraktekannya.

Di Indonesia, secara hukum praktik FGM tidak dibenarkan. Tapi pada kenyataannya FGM masih tetap berlangsung di masyarakat dan sudah menjadi tradisi turun-temurun.

sunat wanitaFGM Bagian Diskriminasi Wanita?

Menilik pada dampak FGM, WHO – Lembaga PBB yang berfokus pada kesehatan – menyatakan bahwa sunat perempuan merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Sedangkan bila kita tinjau lebih jauh isi hadits yang menganjurkan sunat perempuan, tujuan sunat ini bukan bagi perempuan itu sendiri. Melainkan untuk memberikan kemuliaan dan kenikmatan seksual bagi suami.

Sementara menurut tradisi, sunat perempuan bertujuan untuk membersihkan bagian tubuh yang kotor sehingga membuatnya cantik dan layak. Bahkan di salah satu suku Indonesia, perempuan yang tidak bersunat disamakan dengan pelacur dan dianggap binal. Jika Anda tidak setuju, silakan mengemail kami!

Isa Al-Masih dan Ajaran-Nya Tentang Sunat

Kitab Allah dan Isa Al-Masih tidak pernah mengajarkan sunat perempuan secara jasmani. Sebab menurut Kitab Allah, ". . . yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah . . . sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah” (Injil, Surat Roma 2:28-29).

Sunat rohani artinya menyingkirkan dari hati hal-hal atau kecenderungan, atau motif apapun yang tidak menyenangkan serta najis di mata Allah. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang mengijinkan Isa Al-Masih menukar hatinya yang penuh dosa, dengan hati baru yang telah dikuduskan lewat pengorbanan Isa di kayu salib.

Jika Anda menginginkan hati yang baru, datanglah kepada Isa. Minta Ia mengkuduskan hati Anda!

[Staf Isa dan Islam – Untuk masukan atau pertanyaan mengenai artikel ini, silakan mengirim email kepada Staff Isa dan Islam.]

Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Berdasarkan penjelasan di atas, setujukah saudara bahwa agama Islam telah mengadopsi tradisi kuno dalam ajarannya mengenai sunat perempuan? Jelaskan alasan saudara!
  2. Setujukah saudara bahwa sunat secara rohani lebih baik dan penting daripada sunat jasmani? Jelaskan alasan saudara!
  3. Bagaimana pandangan saudara mengenai hubungan antara sunat jasmani dengan jaminan keselamatan seseorang di akhirat?

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

Ditulis oleh: Saodah

 

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Apabila Anda memiliki keinginan untuk didoakan, silakan mengisi permohonan doa dengan cara klik link ini.

Add comment

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
3. Sebelum menuliskan jawaban, copy-lah pertanyaan yang ingin dijawab terlebih dahulu.
4. Tidak diperbolehkan menggunakan huruf besar untuk menekankan sesuatu.
5. Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.
6. Satu orang komentator hanya berhak menuliskan komentar pada satu kolom. Tidak lebih!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected]

Kiranya petunjuk-petunjuk di atas dapat kita perhatikan.

Wassalam,
Staf, Isa dan Islam

Security code
Refresh