Akhirnya, Wanita Boleh Mengemudi Di Arab Saudi

wanita arab menyetirSekitar dua minggu lalu, Kerajaan Arab Saudi memutuskan wanita boleh mengemudi mobil. Arab Saudi adalah negara terakhir untuk memperbolehkan wanita mengemudi kendaraan.

Mengapa wanita di Arab Saudi baru boleh menyetir tanpa ijin dari suaminya? Adakah kaitan dengan ajaran Islam? Bagaimana sikap Isa terhadap wanita? Kita akan lihat ajaran mana yang lebih termulia dan layak diikuti.

Keputusan Memperbolehkan Wanita Mengemudi Mobil

Mulai Juni 2018, wanita di Arab Saudi boleh mengemudi mobil. Selama bertahun-tahun wanita sering berdebat mengenai persoalan ini. Karena ada banyak pria berpikir, membiarkan wanita mengemudi akan menyebabkan dosa.

Lalu, mengapa sekarang wanita boleh menyetir? Apakah karena kerajaan benar-benar ingin memajukan hak wanita? Atau untuk menolong ekonomi di sana? Kita belum tahu.

Mengapa Wanita Masih Belum Punya Banyak Hak di Arab Saudi

Walaupun keputusan ini baik bagi wanita di sana, tapi masih banyak hal yang tidak dapat dilakukan wanita tanpa ijin dari suaminya. Wanita masih belum boleh menikah, cerai, mendapat paspor, keluar rumah, membuka rekening bank, berbicara dengan pria secara bebas, dan hukum yang adil.

Mengapa? Karena Arab Saudi masih mengikuti hukum syariah yang sangat ketat.

Sebaiknya wanita tetap di rumah saja, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku . . .” (Quran Al-Ahzab [33]:33). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perintah ini tidak hanya untuk isteri-isetri Nabi Islam. Tapi untuk seluruh kaum Muslimah.

Ibnu Taimiyyah pernah berkata, “Tidak boleh baginya untuk keluar dari rumahnya kecuali mendapat ijin dari suaminya. Seandainya ia keluar tanpa izin dari suaminya, maka ia telah berlaku durhaka . . .”

Karena Kerajaan Arab Saudi masih mengikuti hukum syariah, wanita di sana masih belum punya banyak hak, seperti hak-hak di atas. Silakan mengirim email kepada kami jika Anda setuju bahwa Arab Saudi masih mengikuti hukum syariah.

isa dan wanitaHak Kaum Wanita Menurut Isa Al-Masih

Ada banyak contoh dalam Injil dimana Isa Al-Masih memperlakukan perempuan dengan hormat, baik hati, dan keadilan. Isa tidak pernah memberi pengajaran yang melarang wanita keluar rumah, walau tanpa ijin suami terlebih dahulu.

Ketika bertemu dengan seorang wanita Samaria di sumur Yakub, Isa tidak mengusirnya atau memarahinya. Walaupun si wanita berdosa, Isa masih mengasihinya dan bermurah hati kepadanya.

Banyak orang percaya kepada Isa Al-Masih dan mulai mengikuti-Nya karena wanita tersebut. “. . . banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu . . .” (Injil, Rasul Besar Yohanes 4:39).

Kita semua harus mempercayai Isa jika mau diselamatkan dari semua dosa. Karena Isa adalah satu-satunya jalan masuk sorga. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup . . .” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).

Dalam kebanyakan kelompok-kelompok Kristen, wanita diperlakukan dengan hormat dan kasih karena teladan Isa. Anda dapat belajar lebih dalam mengenai kasih Isa lewat email ini.

[Staf Isa dan Islam - Untuk masukan atau pertanyaan mengenai artikel ini, silakan mengirim email kepada Staff Isa dan Islam.]

Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Menurut Saudara, mengapa Kerajaan Arab Saudi baru memperbolehkan wanita mengemudi mobil, tapi tidak sebelumnya?
  2. Menurut ajaran Islam, apakah lebih baik jika perempuan tetap di rumah dan tidak keluar tanpa ada keperluan? Jelaskan!
  3. Apakah lebih baik jika kita semua mengikuti teladan Isa terhadap wanita? Bagaimana bila semua pria menghormati wanita dan memperlakukan mereka secara adil?

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

Ditulis oleh: Kaleb

 

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. atau SMS ke: 0812-8100-0718.

Apabila Anda memiliki keinginan untuk didoakan, silakan mengisi permohonan doa dengan cara klik link ini.

Add comment

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
3. Sebelum menuliskan jawaban, copy-lah pertanyaan yang ingin dijawab terlebih dahulu.
4. Tidak diperbolehkan menggunakan huruf besar untuk menekankan sesuatu.
5. Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.
6. Satu orang komentator hanya berhak menuliskan komentar pada satu kolom. Tidak lebih!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected]

Kiranya petunjuk-petunjuk di atas dapat kita perhatikan.

Wassalam,
Staf, Isa dan Islam

Security code
Refresh

Comments   

# Daandied 2017-10-13 10:33
~
Meneladani seluruh aspek kehidupan Yesus tentu menjadi dambaan setiap pengikutnya. Namun mustahil bisa dilaksanakan. Karena dalam Alkitab tidak ada kisah Yesus menikah.

Bagaimana pandangan Alkitab terhadap orang yang tidak mau menikah? Bagi yang menikah, bisakah dikatakan tidak meneladani Yesus? Mohon pencerahannya.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2017-10-13 12:17
~
Sdr. Daandied,

Terimakasih untuk pertanyaan Anda. Saudaraku, apa yang Anda pikirkan tentang kehidupan pernikahan? Bukankah unsur pentingnya adalah interaksi intens antar masing-masing anggota keluarga? Bukankah Yesus juga hidup dalam sebuah keluarga? Dapatkah Anda temukan satu saja catatan Injil tentang sikap buruk Yesus pada ayah, ibu, atau saudara-saudara nya? Lebih luas lagi, pernahkah Ia bersikap tidak senonoh kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk kepada wanita? Sebaliknya baik Al-Quran (Qs 19:19) maupun Injil menyatakan Yesus tidak pernah berdosa.

Dengan sikap hidup Yesus yang begitu kasih dan bijak kepada semua orang, bahkan rela berkorban menyelamatkan manusia dari dosa, masihkah Yesus tidak layak menjadi teladan sempurna dalam rumahtangga? Masih adakah lagi teladan yang lebih luhur daripada tindakan menghargai, melayani, melindungi, mengasihi, dan menyelamatkan seperti yang Yesus kerjakan?

Sebaliknya, bagaimana dengan kebijakan kerajaan Arab Saudi yang sebelumnya telah melarang wanita mengemudikan mobil sendiri? Bukankah negara ini memberlakukan syariat Islam? Tentu aturannya pun menyiratkan seberapa jauh syariah menghargai wanita, bukan? Siapakah yang menjadi teladannya?
~
Yuli