Islam-Kristen Dan Faktor Sosial Penunjang KDRT

Dipukul

Secara singkat, perkawinan merupakan ikatan perjanjian hukum antara dua pribadi, pria dan wanita. Menyatunya dua orang yang mempunyai sifat berbeda, jelas tidak mudah. Sehingga biasanya dalam pernikahan timbul percekcokan. Sayangnya, tidak jarang percekcokan ini berakhir dengan kekerasan, yang mana Allah sangat membencinya.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, kasus KDRT di Indonesia terus mengalami peningkatan. Tahun 2012, terdapat 8,315 kasus. Tahun 2013, meningkat menjadi 11.719 kasus. Dan tahun 2014, Komnas Perempuan mencatat terdapat sebanyak 293,220 kasus kekerasaan terhadap perempuan. Dengan angka tersebut, maka rumah tangga menjadi ranah terbesar penyumbang munculnya kekerasaan terhadap wanita.

Sebuah media online “The Australian” menuliskan, di Iran seorang wanita akan dirajam karena berzinah. Di Arab Saudi, seorang presenter televisi dipukul sampai pingsan oleh suaminya karena percekcokan. Di Pakistan, 80% dari perempuan adalah korban KDRT, dan 40% di Turki.

suami mengasihi istriFaktor Sosial Penunjang Terjadinya KDRT

Terdapat berbagai faktor menunjang terjadinya KDRT. Diantaranya, adanya rasa memiliki sepenuhnya yang ternama di jiwa kaum pria. Rasa memiliki sepenuhnya ini cenderung memicu pria lebih egois. Sehingga, ketika isteri tidak melakukan permintaannya, suami tidak segan-segan melakukan KDRT.

Menurut Komnas Perempuan, KDRT bukan saja kekerasan fisik. Tetapi juga kekerasan psikologis, kekerasan seksual, hingga penelantaran dalam rumah tangga.

Faktor Agama Penunjang Terjadinya KDRT

Selain faktor sosial, ternyata secara tidak langsung, ajaran agama pun dapat memicu terjadinya KDRT. Seperti, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita . . . . pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka . . . ” (Qs 4:34).

Memang mendidik isteri adalah kewajiban suami. Apakah tidak ada cara mendidik yang lebih kasih selain dengan cara memukul? Mungkin saja suami tidak memukul dengan keras, dan tidak menimbulkan luka. Tapi efek dari pemukulan tersebut, dapat melukai psikologis si isteri, bukan?

Isa Al-Masih Menentang Sikap Kasar Suami Terhadap Isteri

Sebagai umat beragama, selayaknya dapat mengasihi isterinya sebagai anugerah dari Allah. "Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Injil, Surat Kolose 3:19). Suami beragama seharusnya bersikap baik serta lembah lembut kepada isterinya. Tidak panas hati, geram, kasar, atau bertindak menyakiti hati isteri.

Injil Allah menjelaskan, pengikut-Nya harus menghilangkan, “. . . segala perasaan sakit hati, dendam dan marah. Jangan lagi berteriak-teriak dan memaki-maki. Jangan lagi ada perasaan benci atau perasaan lain semacam itu” (Injil, Surat Efesus 4:31). Rumah tangga bukan tempat untuk melakukan kekerasan fisikal ataupun psikologis!

Isa Al-Masih Menginginkan Rasa Aman dan Kasih di Rumah Tangga

Rumah tangga (perkawinan) merupakan lembaga yang didirikan Allah. Maka selayaknya semua anggota keluarga harus merasa aman, dan terlindungi dari kekerasaan. Baik dari luar maupun dari dalam. Suami bertanggung-jawab menjamin rasa aman dalam rumah tangganya.

Bila Anda pernah melakukan KDRT, datanglah kepada Isa Al-Masih. Dia dapat memberi pengampunan dan hati baru bagi Anda. “Barangsiapa ada di dalam Al Masih, ia adalah ciptaan baru. Perkara-perkara yang lama sudah berlalu, dan semuanya telah menjadi baru” (Injil, Surat 2 Korintus 5:17, KSI).

Seseorang yang telah menerima terang kasih Allah dalam Isa Al-Masih, akan mempunyai kasih dalam dirinya. Dan dengan kasih tersebut, dia akan dapat memperlakukan pasangannya dengan penuh kasih.

Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Menurut saudara, mengapa dalam Islam memukul isteri diperbolehkan?
  2. Dalam pernikahan jelas percekcokan tidak dapat dihindari. Cekcok kecil maupun besar. Menurut saudara, apakah jalan keluar yang harus diambil untuk mengatasi percekcokan tersebut?
  3. Menurut saudara, pernikahan harmonis itu pernikahan yang bagaimana? Jelaslah!

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda*****pada komentar-komentar yang kami merasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”  

 

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Apabila Anda memiliki keinginan untuk didoakan, silakan mengisi permohonan doa dengan cara klik link ini.

Add comment

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Komentar hanya diperbolehkan menjawab salah satu dari 3 pertanyaan fokus yang dimuat di bagian akhir artikel. Kecuali beberapa artikel yang tidak memuat 3 pertanyaan fokus.
3. Sebelum menuliskan jawaban, copy-lah pertanyaan yang ingin dijawab terlebih dahulu.
4. Tidak diperbolehkan menggunakan huruf besar untuk menekankan sesuatu.
5. Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.
6. Satu orang komentator hanya berhak menuliskan komentar pada satu kolom. Tidak lebih!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected]

Kiranya petunjuk-petunjuk di atas dapat kita perhatikan.

Wassalam,
Staf, Isa dan Islam

Security code
Refresh

Comments   

# aldino 2015-07-15 19:20
~
"... Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar" (Qs 4:34).

Nusyuz adalah tindakan istri yang tidak lagi menghormati, mencintai, menjaga dan memuliakan suaminya (tidak berkomitmen pada ikatan suci pernikahan). Misalnya, istri selingkuh dengan pria lain.

Al-Quran memberikan tuntunan lewat tiga langkah:

1) Menasihati istri dengan sebaik-baiknya.

2) Pisah ranjang. Pada tahap ini, yang tidak boleh dilakukan suami pada istrinya adalah mengusirnya keluar rumah. Langkah ini berakhir saat istri sudah tobat dari nusyuz-nya dan minta maaf kepada suami. "Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Tidak halal bagi seorang muslim melakukan hajr (boikot dengan tidak mengajak bicara) lebih dari tiga hari” (HR. Bukhari no. 6076 dan Muslim no. 2558).

3) Memukul istri dengan pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak menimbulkan bekas di anggota tubuh. Walaupun begitu, menahan diri untuk tidak memukul juga merupakan sunnah nabi karena Rasulullah tidak pernah memukul istri atau pembantu beliau.

Solusi yang ditawarkan oleh Islam untuk mendidik wanita yang durhaka kepada suami maupun kepada Allah adalah menjadkani wanita yang baik. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;" (Qs 66:6).
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-21 09:20
~
Sdr. Aldino,

Terimakasih untuk tanggapan Anda atas isi artikel di atas.

Untuk membahas KDRT, inti terpenting sudah dibahas pada artikel, namun Anda lewatkan. Tentu Anda setuju bahwa "mencegah lebih baik daripada mengobati", bukan? Nah, mari kaji ulang kutipan artikel: "... faktor menunjang terjadinya KDRT ... rasa memiliki sepenuhnya yang ternama di jiwa kaum pria. Rasa memiliki sepenuhnya ini cenderung memicu pria lebih egois. Sehingga, ketika isteri tidak melakukan permintaannya, suami tidak segan-segan melakukan KDRT...". Jika faktor ini disadari dan dicegah, maka kasus KDRT dapat diminimalisir.

Tentang penjelasan Anda atas Qs 4:34, ada dua hal penting yang perlu direnungkan ulang:

1. ayat ini tidak melihat akar masalah. Mengapa istri berbuat nusyuz? Apa/siapa penyebabnya? Tentu tak ada suami/istri yang steril dari kesalahan, bukan? Sebelum suami menasihati, adakah introspeksi diri dari masing-masing pihak? Tidak adakah diskusi dari hati ke hati? Apakah nusyuz telah terbukti atau hanya persangkaan belaka? Tanpa mencabut akar masalah, langkah apapun tidak memberikan solusi yang tepat.

2. Dengan membandingkan antara Qs 4:34 dan riwayat nabi Anda yang tidak pernah memukul istri, seakan mengesankan sunnah nabi Anda lebih bijak daripada perintah Allah SWT, bukan? Bukankah tanpa memukul pun, Anda yakin bila nabi Anda berhasil mendidik para istrinya? Perlu pula diingat, dari hasil survai dan penelitian ilmiah, Komnas Perempuan juga menyatakan "...KDRT bukan saja kekerasan fisik. Tetapi juga kekerasan psikologis...". Artinya, pukulan teringan yang tak membekaskan luka fisik pun tetap membekaskan luka psikis.
~
Yuli
# aldino 2015-07-15 19:39
~
"Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Injil, Surat Kolose 3:19).

Ayat ini tidak berhubungan dengan artikel KDRT dan sebab akibatnya. Sebaliknya, Al-Quran dengan benar menjelaskan tata cara hubungan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah, ataupun solusi bagi masalah rumah tangga.

Kasus seperti istri selingkuh, menjadi pelacur, tidak taat suami, apakah harus tetap menggunakan Injil, Surat Kolose 3:19 tanpa ada ajaran yang mendidik terhadap istri dan menyelamatkanny a dari adzab Allah?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-21 09:43
~
Sdr. Aldino,

Justru ayat dalam Injil, Surat Kolose 3:19 menjawab akar permasalahan sekaligus solusi dalam berumah tangga (pencegah segaligus obat mujarab).

Mari perhatikan ulang bunyinya: "Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Injil, Surat Kolose 3:19).

Jika sejak awal suami-istri hidup dalam kasih, maka kasus-kasus yang Anda kemukakan tidak akan terjadi. Dari hasil survai, pikirkan ulang mengapa istri berselingkuh, melacurkan diri, atau tidak taat pada suami? Apakah suami tidak punya peran negatif di sana?

Nah, saat hal itu terjadi, tentu akarnya tidak ada kasih dalam rumah tangga, bukan? Maka suami-istri perlu sama-sama bertobat di hadapan Allah, memohon ampun kepada-Nya, saling meminta dan memberi maaf pada pasangan, dan menerapkan hubungan kasih antar suami-istri, bukannya saling menghukum. Ini pertobatan yang sejati. Bukankah mereka berdua sama-sama bersalah? Jika menghukum dengan dalil mendidik, maka mereka harus saling menghukum, bukan? Lalu, sampai kapankah selesai?

Mencabut akar masalah adalah solusi yang paling tepat. Ini dibuktikan oleh ayat Injil, Surat Kolose 3:19.
~
Yuli
# aldino 2015-07-23 11:41
~
Sdr Yuli,

Bagaimana jika saya memakai ayat ini, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..." (Qs 66:6). Ruang lingkup mana yang lebih besar maknanya demi menjaga rumah tangga yang bahagia dunia dan akhirat dengan ayat yang ibu pakai, "Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Injil, Surat Kolose 3:19)?

Jika berakal sehat, Anda paham dan menggunakan dasar ayat Al-Quran tsb sebagai pedoman. Tidak hanya menjaga di dunia, tapi menjaga dan melindungi dari adzab api neraka. Apakah hanya istri? Tidak, melainkan keluarga yaitu anak dan istri serta sanak famili yang lain. Paham?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-27 10:52
~
Sdr. Aldino,

Menanggapi pertanyaan Anda, mari simak analogi sederhana ini:

Perintah #1: "Sejahterakanla h rumahtanggamu!"
Perintah #2: "Bekerjalah dengan halal untuk menyejahterakan rumahtanggamu!"

Kasus: Perekonomian keluarga Panji kurang baik karena Panji seorang pengangguran yang pemalas. Maka saat istrinya merengek minta uang belanj, tanpa pikir panjang Panji mencuri uang tetangga kampung sebelah. Ia berpikir tindakannya memenuhi Perintah #1. Bukankah mencukupi kebutuhan keluarga termasuk menyejahterakan rumahtangga? Sayangnya, Panji lupa bahwa ia melanggar Perintah #2.

Menurut Anda, dari analogi dua perintah di atas, perintah manakah yang lebih jelas dan tepat sasaran?

Perintah #2 menganalogikan Injil, Surat Kolose 3:19. Surat Injil ini tepat sasaran, pencegah, sekaligus obat mujarab bagi kesejahteraan rumahtangga. Kasih sejati menjadi kunci keberhasilannya.
~
Yuli
# BOAS 2015-07-23 16:21
~
Saudara Aldino,

Dengan memakai surat Qs 66:6 pun tetap tidak menyelesaikan masalah karena jika Saudara mengamalkan surat Qs 4:34, maka seorang Muslim yang suka menggunakan kekerasan pun akan dikatakan beriman dan memelihara diri.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-27 11:09
~
Anda benar, Saudara Boas. Analogi yang kami gunakan untuk mejelaskan kepada Sdr. Aldino di atas merincikan apa yang Anda maksud.

Dengan bersembunyi dalam naungan perintah Qs 66:6, seseorang dapat membenarkan tindak kekerasannya kepada istri sesuai dengan perintah Qs 4:34 dengan dalil mendidik istri. Padahal, ayat ini bertentangan dengan "Hukum Kasih Isa Al-Masih".

Sebaliknyam kunci sebenarnya dari kesejahteraan rumahtangga bukanlah memukul dan memisahkan istri (Qs 4:34), melainkan penerapan kasih sejati sejak dini yang penuh kasih sayang, kelembutan, dan penghormatan pada setiap anggota keluarga. Dengan nyata hal ini justru tertulis dalam Injil, Surat Kolose 3:19.
~
Yuli
# aldino 2015-07-23 19:36
~
Bung Boas yang dibayar oleh situs ini,

Simaklah ulang Qs 66:6. Tolong dipahami bahwa orang-orang beriman disuruh memelihara diri dan keluarganya. Memelihara adalah salah satu sifat kasih sayang yang lebih merujuk kepada kata melindungi, menjaga, mendidik, menghormati.

Ayat tersebut memerintahkan melindungi dari api neraka. Sampai seperti itulah Al-Quran mengajarkan kita, indah sekali. Bukan hanya penderitaan di dunia, Islam juga mengajarkan penderitaan yang lebih pedih di neraka.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-27 11:30
~
Sdr. Aldino,

Mari berucap dengan bijak. Sama seperti Anda, Sdr. Boas rindu berpartisipasi dalam dialog yang bertujuan bagi penyampaian kebenaran. Bukankah Anda pun juga tidak mendapatkan keuntungan material (uang) di sini? Maka, sebagai sesama partisipan, marilah saling menghormati.

Jika "memelihara diri dan keluarga" merujuk pada sifat kasih sayang yang berwujud melindungi, menjaga, mendidik, dan menghormati, bagaimana Qs 4:34 yang tersurat memerintahkan "memukul dan memisahkan istri" dianggap tindakan kasih sayang? Bukankah tindak kekerasan fisik dan psikis yang dialami istri justru tidak memberikan rasa aman dan penghormatan atas dirinya? Bagaimana tanggapan Anda?
~
Yuli
# BOAS 2015-07-23 21:00
~
Saudara Aldino,

Apakah Anda tidak setuju bahwa dengan mematuhi Qs 4:34, berarti seorang Muslim telah melakukan salah satu kriteria tuntutan Qs 66:6?
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-27 11:46
~
Sdr. Boas,

Pertanyaan yang Anda lemparkan cukup baik untuk memberikan umpan balik lebih lanjut kepada kita semua.

Jika rekan Muslim setuju bahwa perintah memukul dan memisahan istri untuk dalil mendidik (Qs 4:34) termasuk memenuhi perintah untuk "memelihara" diri dan keluarga dari api neraka (Qs 66:6), tidakkah hal ini janggal ketika "memelihara" diartikan sebagai melindungi, menjaga, mendidik, menghormati? Bukankah memukul dan memisahkan istri identik dengan kekerasan fisik dan psikis yang berlawanan dengan kasih sayang, perlindungan, pendidikan, dan penghormatan terhadap masing-masing anggota keluarga?
~
Yuli
# jo 2015-07-24 08:09
~
Saya mohon kepada pengelola website ini supaya tidak membandingkan Al-Quran dan Injil. Semoga Tuhan membukakan pintu hidayah kepada kita semua.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-27 12:00
~
Sdr. Jo,

Terimakasih untuk himbauan Anda.

Saudaraku, jika kebenaran dari Allah adalah hal terpenting dalam hidup kita, maka kita perlu lebih kritis menelaah segala sesuatu. Ketika kita menonaktifkan daya telaah kita, maka kita menjadikan diri sebagai robot yang sekedar menjalankan perintah tanpa tahu makna dan tujuannya. Padahal, tidak semua perintah berasal dari Allah, bukan? Hanya kebenaran sejati dari Allah-lah yang membawa kesejahteraan dunia akhirat. Jadi, mari bersungguh-sung guh belajar dari kitab suci, sudahkah kita berada di jalan Allah?

"dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Injil, Rasul Besar Yohanes 8:32).
~
Yuli
# aldino 2015-07-24 10:44
~
Bung Boas,

Tolong dijelaskan ulang petanyaan Anda:
"Apakah Anda tidak setuju bahwa dengan mematuhi Qs 4:34, berarti seorang Muslim telah melakukan salah satu kriteria tuntutan Qs 66:6?"

Saya tidak paham maksud dari pertanyaan anda.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-27 12:03
~
Sdr. Aldino,

Untuk membantu Anda memahami maksud pertanyaan Sdr. Boas, silakan baca penjelasan kami di atas (# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-27 11:46).
~
Yuli
# BOAS 2015-07-24 13:07
~
Saudara Aldino,

Begitu gampangnya memahami kedua surat itu tanpa perlu ditafsirkan lagi, tetapi saudara tidak mengerti.

Atau barangkali menurut Saudara, Qs 4:34 diturunkan dalam situasi seperti sepasang pemuda yang sedang kasmaran, lalu melakukan "pukul-pukul sayang" kepada pacarnya? Kalau situasinya seperti itu, tidak perlu Allah mewahyukannya.

Tetapi hal itu dianjurkan untuk maksud membuat jera atau tahu-rasa. Anehnya, mengapa yang punya wahyu tidak memikirkan efek yang lain? Karena disangkanya, jika fisiknya dihajar, maka permasalahan selesai. Saya rasa tidak perlu terlalu rumit menjelaskannya karena Anda bukan anak kecil lagi.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-27 12:11
~
Sdr. Boas,

Semoga dengan penjelasan tambahan Anda, dilengkapi dengan penjelasan kami (# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-27 11:46) mempermudah pemahaman Sdr. Aldino untuk menangkap maksud pertanyaan Anda. Dan kiranya hal iini dapat segera Sdr. Aldino tanggapi.
~
Yuli
# Mochammad Solichin 2015-07-25 18:59
~
Kalau Anda belum mengerti ajaran Islam, jangan asal bicara saja.

Tentang Al Qur'an surat An-Nisâ’ ayat 34 (anda tulis Qs 4:34), maksudnya: untuk memberi pelajaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkanganny a, haruslah mula-mula diberi nasihat. Bila nasihat tidak bermanfaat, barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka. Bila tidak bermanfaat juga, barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya, janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.
Demikian sekali lagi jangan asal bicara kalau tidak mengerti.

Menurut Islam, pernikahan harmonis yaitu pernikahan yang memahami makna dan tujuan dari pernikahan. Adalah penting untuk menanamkan niatan yang benar bahwa pembentukan keluarga dalam bentuk pernikahan yang syah dan benar baik dalam agama maupun aturan negara ialah rumah tangga yang dibina atas landasan taqwa, berpandukan Al-Quran dan Sunnah, bukan semata-mata atas dasar cinta.
# Staff Isa Islam dan Kaum Wanita 2015-07-27 12:37
~
Sdr. Mochammad Solichin,

Penjelasan Anda senada dengan Sdr. Aldino di bagian atas (# aldino 2015-07-15 19:20). Sayangnya, tiga langkah tsb tidak menyentuh akar masalah sehingga tidak memberikan solusi bagi kesejahteraan rumahtangga.

Seperti yang ditanyakan Sdr. Boas, apakah dengan tindakan akhir memukul istri, masalah menjadi selesai? Sebaliknya, yang ada hanyalah saling menyakiti yang tak berkesudahan, sedangkan masalah utama tidak diketahui.

Injil, Surat Kolose 3:19 justru memberikan solusi yang tepat. Kunci kesejahteraan rumahtangga adalah "kasih" antar pasangan. Tanpa kasih, sampai kapanpun, tindakan pembangkangan dalam berbagai bentuk yang didasari sakit hati tidak akan pernah sembuh.

Jika Anda mengartikan "cinta" sebagai nafsu jasmaniah, ia bukanlah "kasih" karena firman Allah mendefinisikan kasih sbb: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cembur ... tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran ... sabar menanggung segala sesuatu" (Injil, Surat Korintus 13:4-7). Maka kasih harus menjadi landasan awal dalam berumah tangga.
~
Yuli

Isadanislamstudi2

* Untuk bisa masuk ke pelajaran kursus ini, non-aktifkan 'pop-up blocker' komputer Saudara dengan meng-klik di sebuah 'bar' di bawah 'status bar' di bagian atas layar komputer