“Saya merasa depresi berat. Saya sulit tidur.”
Kusuma mendatangi kami dengan beban berat. Ia tidak tahan menanggung penderitaan. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Bagaimana cara kita terbebas dari beban berat kehidupan? Supaya kita terhindar dari depresi.
Mari kita lihat jalan keluar yang Allah sediakan.
Bimbingan 1: Datang dengan Beban Berat Kehidupan
Kusuma menghubungi layanan konseling kami. Ia menemukannya melalui website.
Saat pertama kali berkomunikasi, ia sangat berbeban berat. Ia menyatakan ini adalah usaha terakhirnya. Karena ia sudah tidak tahu mau bagaimana lagi di hidup ini.
Akhirnya konselor kami memulai bimbingan pertama melalui telepon. Konselor kami meminta dia duduk dan menenangkan diri. Lalu ia dapat berbicara perlahan-lahan dengan jelas.
Kusuma menjelaskan bahwa hidupnya tidak bahagia. Sudah lama ia merasa depresi. Bahkan beberapa tahun belakangan ini bertambah parah. Makin lama, ia makin sulit tidur.
Konselor kemudian bertanya, apa saja yang membuatnya tertekan? Pada awalnya Kusuma tidak menjawab detail. Ia hanya menyatakan ada masalah keluarga dan trauma masa lalu.
Saat itu konselor memberikan kata-kata penguatan. Ia mengingatkan Kusuma bahwa ia siap mendengarkan. Sehingga untuk selanjutnya Kusuma jangan takut bicara.
Konselor juga mengingatkan bahwa Allah peduli. Allah mengenal kita. Ia juga tahu penderitaan yang kita alami. Kemudian mereka membuat janji untuk waktu bimbingan berikutnya.
Bimbingan Ke 2: Awal Keterbukaan
Sesi konseling ini masih dilanjutkan dengan telepon. Kali ini konselor memintanya untuk mau lebih terbuka menceritakan masalahnya.
Saat itu Kusuma menyatakan berawal dari perasaan sedih yang mendalam. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil. Ia sangat kehilangan sosok ayah.
Masalahnya hubungan dengan ibu tidak baik. Mereka sering konflik. Bahkan ia sangat membenci ibunya.
Inilah yang menjadi beban berat kehidupannya. Ia sangat tertekan dengan kondisi keluarganya.
Pada pertemuan kedua, konselor lebih banyak mendengarkan. Ia membiarkan Kusuma merasa nyaman untuk berbicara terbuka.
Di akhir pertemuan, konselor memberikan tanggapan. Yaitu bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluar. Dan makin kita memahami akar masalah, makin cepat proses pemulihan terjadi.
Bimbingan Ke 3: Menggali Akar Masalah
Akhirnya, pada pertemuan inilah Kusuma mau terbuka penuh. Mereka bertemu di sebuah tempat makan di mall.
Kusuma menceritakan bahwa dahulu pernikahan orang tuanya tidak bahagia. Mereka sering konflik sangat keras.
Ibu Kusuma bermulut tajam. Ibu kerap marah kepada Kusuma. Ia juga sering mengkritik ayah dengan kata-kata kasar.
Pada puncaknya ada masa ayah gagal dalam kariernya. Ibu begitu marah dan merendahkan ayah. Setiap hari ia memakinya.
Dalam keadaan depresi ayah Kusuma mengambil pisau dapur dan ia mengakhiri hidupnya. Hal ini terjadi di hadapan Kusuma yang masih kecil. Karena itu ia sangat membenci ibunya.
Mendengar ini konselor terkejut. Ia menyadari ada trauma besar yang dialami Kusuma dari sejak kanak-kanak.
Saat itu konselor berjanji untuk mendoakan Kusuma. Ia juga mengajarkan doa sederhana. “Ya Allah yang Maha Kasih tolong kuatkan hidup saya. Berikan saya petunjuk agar mendapat penghiburan-Mu.”
Bimbingan Ke 4: Mencoba Bunuh Diri
Pada pertemuan selanjutnya Kusuma lebih terbuka lagi. Ia jujur mengatakan sudah tidak sanggup. Beban berat kehidupannya terasa terlalu besar.
Karena beban berat kehidupan ini, Kusuma pernah mencoba beberapa kali mengakhiri hidupnya. Pertama saat remaja. Ketika pulang sekolah, ia minum obat nyamuk. Namun ia ditemukan oleh bude (bibinya). Akhirnya ia dibawa ke rumah sakit dan selamat.
Kemudian pada masa kuliah. Ia mencoba memotong urat nadi. Namun kali itupun gagal. Teman kos menemukannya dan ia segera di bawa ke rumah sakit.
Konselor memberikan beberapa nasihat. Pertama ia mengajak Kusuma untuk mencari makna hidup. Bahwa hidup itu dari Allah dan berharga.
Selanjutnya konselor mengingatkan tentang kasih Allah. Ia Maha Kasih dan mau memberikan kasih-Nya kepada kita.
“‘Sekalipun gunung-gunung berpindah dan bukit-bukit bergoyang, kasih abadi-Ku tidak akan berpindah darimu . . .’ demikianlah firman Allah, yang mengasihani engkau” (Taurat, Yesaya 54:10).
Bimbingan Ke 5: Pandangan Agama
Pada bimbingan selanjutnya, konselor bertanya bagaimana dengan keyakinan Kusuma? Karena keimanan membantu kita untuk kuat.
Kusuma berkata sudah sangat lama tidak beribadah. Hal ini karena ia telah sangat kecewa dengan Allah, dalam kehidupannya.
Memang tadinya ada teman mencoba menguatkan. Memberinya ayat: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs 94:5).
Ia bahkan tahu larangan mengakhiri hidup diri dan ancamannya. “. . . Dan janganlah kamu mengakhiri hidup dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian . . . maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka . . .” (Qs 4:29-30).
Namun beban berat kehidupan membuatnya keras hati. Ia merasa tawar dan tidak ada harapan.
Konselor mengingatkan Allah Maha Kasih. Karena itu Ia mengasihi Kusuma. Allah juga mau mengampuni semua dosa Kusuma.
Selanjutnya konselor mulai mengajarkan untuk Kusuma belajar mengampuni ibunya. Walau sulit, namun kita perlu sadar, dia juga manusia yang lemah dan berdosa.
“Hendaklah kamu saling mengasihi . . . dan saling memaafkan sebagaimana Allah telah mengampuni kamu di dalam Al-Masih” (Injil, Surat Efesus 4:32).
Tentu saja Kusuma kesulitan saat pertama kali mendengarnya. Namun mereka konsisten mau bertemu lagi dan membicarakannya di kemudian hari.
Bimbingan Ke 6: Penghiburan Allah
Kali ini mereka bertemu di sebuah tempat minum teh. Konselor memuji Kusuma yang mau datang dan terus melakukan bimbingan.
Kusuma memulai percakapan. “Dari mana kamu tahu Allah mengasihi saya? Apalagi saya yang tidak pernah ibadah. Saya juga telah mencoba mengakhiri hidup. Padahal saya tahu mengakhiri hidup adalah dosa.”
Konselor menjelaskan menurut kepercayaannya, Allah adalah Maha Kasih. Karena itu Ia peduli. Ia mau menyelamatkan manusia.
Namun dunia dan manusia penuh dosa. Penderitaan, kejahatan dan tragedi adalah akibat dosa.
Allah menyediakan jalan keluar dengan menjelma menjadi manusia. Inilah Isa Al-Masih. Ia datang mengajarkan kebenaran. Lalu Isa mati di kayu salib, menebus kita dari hukuman dosa.
Jadi inilah pernyataan Allah mengasihi kita. Ia mengampuni orang berdosa. Kemudian Ia akan memberikan jalan ke surga.
“. . . kasih Allah itu dinyatakan kepada kita, yaitu bahwa Allah telah mengirim Isa ke dalam dunia. Melalui-Nya kita memperoleh hidup. Kasih itu demikian: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, melainkan Dialah yang telah mengasihi kita . . .” (Injil, Surat 1 Yahya 4:9-10, parafrasa),
Bukan hanya itu, Allah juga mau menghibur kita. Ia menguatkan manusia yang memiliki beban berat.
“Berbahagialah mereka yang berdukacita karena mereka akan dihibur” (Injil, Matius 5:4).
Saat itu mereka banyak berdiskusi. Kusuma tertarik mengetahui lebih dalam.
Bimbingan Ke 7: Keselamatan Allah
Konselor bertanya kepada Kusuma bagaimana perkembangan keadaannya. Apakah ia lebih tenang atau masih sangat sedih.
Kusuma menyatakan trauma dan rasa sakit masih ada. Namun ia melihat secercah harapan.
Ia tertarik mengetahui tentang Allah yang Maha Kasih. Juga tentang harapan bahwa ia mendapat jalan ke surga.
Konselor meneguhkan Kusuma. Menyatakan bahwa Allah mau menghibur dan menyelamatkan. Caranya sederhana, yaitu dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
“Isa telah menanggung dosa-dosa kita pada tubuh-Nya di kayu salib. Oleh pengorbanan-Nya kamu dipulihkan . . . Isa adalah Gembala dan Pemelihara jiwamu” (Injil, Surat 1 Petrus 2:24-25, parafrasa).
Konselor kemudian menjelaskan bahwa Allah akan menguatkan kita menghadapi beban berat kehidupan. Ia akan menyertai kehidupan kita. Ia hadir dan menolong kita melewati setiap luka dan trauma hati.
Selanjutnya dalam ajaran Isa, kita juga akan menemukan tujuan hidup. Sehingga kehidupan jadi bermakna. Kita tidak menjalaninya dengan hampa atau sia-sia.
Kekuatan Hidup Baru
Setelah semua pertemuan ini, masih ada berbagai pertemuan lagi antara konselor dengan Kusuma. Pada tahap selanjutnya konselor mulai mengajak kembali Kusuma mempraktekan kasih.
Walau sangat sulit, konselor mengajak Kusuma untuk mengampuni ibunya. “Kita mengampuni bukan karena perbuatannya benar. Kita mengampuni karena kasih Allah telah kita terima. Jadi kita hanya meneruskan saja. Saat mengampuni, kita menyembuhkan hati kita sendiri.”
Pelan tapi pasti Kusuma mengalami pemulihan hati. Ia mulai terlepas dari beban berat kehidupannya. Ia mulai mengalami ketenangan batin.
Bagaimana dengan Anda para pembaca? Kita bisa mendapat penghiburan Allah. Bahkan kita akan mendapat ampunan dosa.
Mari memulai perjalanan pemulihan dan kekuatan. Mari mengimani Isa dan mengikuti ajaran kasih Isa Al-Masih!
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Bagaimana Hati Muslimah yang Terluka Menjadi Penuh Cinta?
- Bagaimana Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam dan Kitab Allah?
- Mukmin Mengatasi Gangguan Depresi Jiwa dengan Air Kehidupan Allah
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Ceritakan pengalaman pahit atau kesakitan hati Saudara yang membekas! Bagaimana Saudara menghadapinya?
- Dunia penuh penderitaan dan kita juga penuh dosa. Bagaimana cara kita mendapatkan selamat Allah?
- Ada penghiburan dan bahkan jaminan surga melalui Isa Al-Masih! Jelaskan pandangan Saudara mengenai hal ini.
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
