• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
Isa Islam Dan Kaum Wanita

Isa Islam Dan Kaum Wanita

  • Allah Mengasihi Saya?
  • Saya Berhak Masuk Surga?
  • Mengapa Kesepian dalam Pernikahan?
  • Topik Lain
  • Hubungi Kami

Ajaran Allah Pasti Benar: Yakin Poligami Bahagia?

25 Juni 2025 oleh Web Administrator 43 Komentar

“Kisah hidup saya: bertahun-tahun dalam penderitaan.”

Ini adalah judul dari tulisan Hidayati. Ia adalah seorang istri yang telah menjalani poligami. Suaminya menambah istri lain setelah menikahinya.

Semua keluarga ingin hidup bahagia. Dalam hal ini ajaran agama mengijinkan berpoligami. Sehingga keluarga yang mempraktekkannya berharap mendapatkan poligami bahagia.

Namun kenyataannya banyak sekali masalah terjadi. Terutama korban di kalangan kaum wanita. Banyak istri merasakan tertekan dan depresi.

Bagaimana sebenarnya panduan Allah untuk kehidupan keluarga? Apakah poligami membawa bahagia? Mari kita lihat ulasannya.

Kisah Hidup Hidayati: Impian Poligami Bahagia

Hidayati berasal dari Jawa Barat. Ia menikah dengan suami yang berasal dari Sumatera Selatan.

Pada awalnya Hidayati berharap mendapatkan rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Karena itu ia dan suami berusaha menjalankan syariat agama.

Namun pada tahun ketujuh pernikahan mereka terjadi perubahan. Sang suami ingin menikah lagi.

Mendengar itu, sebagai wanita tentu saja Hidayati menolak. Ia sangat marah. Keributan dengan suami pun tak dapat dihindarkan.

Butuh waktu cukup lama baginya untuk menerima keadaan. Bahwa ia mesti berbagi suami dengan perempuan lain.

Namun sang suami bersikeras. Ia berkata akan ada poligami bahagia. Karena ini adalah perintah Allah maka pasti ada berkahnya. Bahkan Hidayati diancam akan diceraikan jika tidak menyetujui karena ia telah meragukan perintah Allah (Qs 33:36).

Saat itu Hidayati telah memiliki dua anak. Dan ia juga sedang mengandung anak ke tiga. Ia tidak siap untuk bercerai dari suaminya. Sehingga dengan berat hati akhirnya ia mengizinkan suami melakukan poligami.

Kisah Hidup Hidayati: Menderita dalam Poligami

Hidayati kemudian mengungkapkan pada umumnya wanita tidak mudah menerima poligami. Masalahnya, serumah dengan istri kedua akan mendapatkan banyak ujian dan rintangan.

“Awal berpoligami sangatlah menguras emosi. Air mata ini tidak bisa berhenti. Sering sekali saya menangis dan sangat merasa sakit hati,” ujar Hidayati.

Terlebih lagi setelah memiliki istri kedua, sang suami jadi mudah marah. Apapun yang Hidayati kerjakan tampak salah.

Jika mereka bertengkar, dengan mudah tangan suami melayang. Ia menjadi sering menampar dan memukul Hidayati.

Inipun katanya sesuai syariat. Bahwa suami boleh memukul istrinya (Qs 4:34).

Hal ini berlanjut terus sampai suatu kali anak pertama Hidayati melihatnya. Ia adalah seorang anak gadis yang masih duduk di bangku SD. Ia begitu terkejut menyaksikan sang ayah memukul ibunya dengan keras.

Hal ini menyebabkan trauma bagi anak gadis tersebut. Sampai sekarang ia menjadi penakut. Ia tidak berani mendekat kepada lelaki manapun. Baik temannya maupun pamannya.

“Saya sudah mencoba untuk menerima hidup berpoligami. Juga sudah berusaha baik dengan istri kedua. Namun saya tidak tahan dengan penderitaan ini. Terutama dalam hal KDRT!” Demikianlah ungkapan Hidayati.

Akhirnya Hidayati memberanikan diri meminta cerai. Ia mengatakan mustahil poligami bahagia dalam keadaan seperti ini.

Poligami Bahagia Ajaran Agama?

Memang ajaran agama mengizinkan seorang pria untuk memiliki hingga empat isteri. “. . . kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat . . . atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (Qs 4:3).

Menurut agama ada berbagai dasar alasan untuk peraturan ini. Misalnya karena di dunia jumlah wanita lebih banyak dibanding pria. Sehingga jumlah pria yang ada tidak cukup bagi setiap wanita untuk memiliki seorang suami.

Juga karena pria memiliki hasrat alami yang besar. Maka memiliki banyak istri melindunginya dari zinah.

Selain itu bermanfaat untuk mendapatkan banyak keturunan. Sehingga bisa mengembangkan suatu kaum. Hal ini terutama berlaku pada zaman dahulu.

Namun makin lama makin banyak pertanyaan muncul. Terutama dari kalangan kaum wanita. Banyak Muslimah yang berusaha taat agama, namun menolak poligami. Alasannya karena kenyataannya terdapat banyak masalah dan penderitaan.

Tidak Mungkin Poligami Bahagia?

Sebagian ulama bahkan menyatakan bahwa sebenarnya tidak mungkin ada poligami bahagia. Karena manusia penuh khilaf dan kelemahan.

Salah satu syarat poligami adalah mampu berlaku adil. Namun kita sebagai manusia tidak bisa mencapainya.

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian . . .” (Qs 4:129).

Karena itu pada kenyataannya ada banyak masalah terjadi. Berikut ini beberapa contohnya.

  1. Para istri merasa tertekan.
    Ada persaingan dari para istri untuk mendapatkan perhatian suami. Dan sulit menjaga hubungan baik dengan istri lainnya.
  2. Suami menjadi tertekan.
    Pada awalnya terkesan pasti poligami bahagia untuk suami. Karena ia memiliki banyak istri.
    Namun kenyataannya justru menambah banyak beban hidup. Suami mendapat jauh lebih banyak tuntutan untuk memenuhi kebutuhan perhatian dan finansial keluarga.
    Seringkali suami juga tidak bisa menjadi penengah antara konflik para istri. Ia juga tidak mampu memberi perhatian kepada semua anak-anaknya.
    Puncak dari hal ini memicu KDRT. Suami menjadi sering marah dan bahkan bisa mengalami darah tinggi.
  1. Depresi dari para anak dalam keluarga poligami.
    Mustahil poligami bahagia dari sudut pandang para anak. Karena banyak konflik orang tua dan kurangnya perhatian ayah mereka. Terlebih lagi jika ada KDRT.
    Semua ini membuat tumbuh kembang anak terganggu. Anak cenderung depresi karena masalah dalam keluarganya.

Pernikahan Bahagia yang Ditetapkan Allah

Karena keadaan ini banyak wanita Muslimah yang mencari ketenangan batin. Karena kenyataan kehidupan rumah tangga tidaklah menjadi berkah.

Bagaimana sebenarnya panduan Allah untuk membangun rumah tangga? Kita dapat melihatnya dari kebenaran dalam Kitab Allah. Yaitu dalam Kitab Taurat, Zabur dan Injil.

Pertama-tama kita mengetahui bahwa Allah menciptakan Nabi Adam dan Siti Hawa saja. Jadi kehendak awalnya hanyalah pernikahan monogami.

Selanjutnya baik dalam Kitab Taurat, maupun Injil ditekankan kesatuan rumah tangga. Bahwa suami dan istri adalah “satu.”

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Injil, Matius 19:6).

Inilah dasar prinsip keluarga bahagia. Dengan demikian ada rasa saling mengasihi dan menghormati.

Terutama suami yang secara fisik lebih kuat, bisa mengasihi istrinya. Hal ini ditunjukkan dengan bersikap lembut dan melindungi.

“Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Injil, Surat Kolose 3:19).

Pernikahan Bahagia dalam Kebenaran Allah

Dasar keluarga bahagia terletak dalam kebenaran Allah. Yaitu dalam ajaran kasih.

Inilah dasar kebenaran yang Isa Al-Masih ajarkan kepada manusia. Inilah panduan untuk mendapatkan kehidupan keluarga yang paling baik.

Kitab Allah menjelaskan penjabaran kasih sejati. “Kasih itu sabar . . . Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (Injil, Surat 1 Korintus 13:4-5).

Bayangkan jika suami dan istri mempraktekkan hal ini. Tentu suasana keluarga menjadi sangat berbeda.

Suami mengasihi istrinya. Istri menghormati suaminya. Orang tua menunjukkan perhatian kepada anak-anaknya. Demikian juga para anak akan mentaati orang tua dengan rela hati.

Inilah panduan Allah untuk kehidupan terbaik rumah tangga. Di dalamnya semua orang akan merasa bahagia dan damai.

Mendapatkan Kebahagiaan dan Keselamatan

Isa Al-Masih adalah penjelmaan Allah menjadi manusia. Allah datang untuk menunjukan kebenaran dan menyelamatkan manusia berdosa.

Melalui Isa, kita mendapat kehidupan keluarga yang paling bahagia. Melalui-Nya juga kita mendapat keselamatan di akhirat. Hal ini karena melalui Isa, Allah akan mengampuni dosa manusia.

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus [Isa Al-Masih] telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya [untuk pengampunan dosa]” (Injil, Surat Efesus 5:25).

Cara kita memperoleh semua ini adalah dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih. Maukah kehidupan keluarga Anda penuh kebahagiaan? Mari mengimani Isa sekarang.


Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Setujukah saudara bahwa poligami merupakan ide terbaik dalam sebuah pernikahan? Jelaskanlah alasannya!
  2. Mengapa sejak semula Allah tidak menciptakan pernikahan poligami?
  3. Menurut saudara, mengapa agama Islam menganut ajaran poligami?

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.

Berikut ini dua link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:

  1. Bagaimana Poligami Merusak Pernikahan Islam Terkenal di Indonesia
  2. Nabi Islam Menolak Suami Fatimah Berpoligami!

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Apabila Anda memiliki keinginan untuk didoakan, silakan mengisi permohonan doa dengan cara klik link ini.

Bagikan Artikel Ini:

Share on Facebook Share on X (Twitter) Share on WhatsApp Share on Email Share on SMS

Ditempatkan di bawah: Pernikahan, Poligami

Subscribe
Beritahulah

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
3. Sebelum menuliskan jawaban, copy-lah pertanyaan yang ingin dijawab terlebih dahulu.
4. Tidak diperbolehkan menggunakan huruf besar untuk menekankan sesuatu.
5. Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.
6. Satu orang komentator hanya berhak menuliskan komentar pada satu kolom. Tidak lebih!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .

Kiranya petunjuk-petunjuk di atas dapat kita perhatikan.

Wassalam,
Staf, Isa Islam dan Kaum Wanita

43 Komentar
Paling lama
Terbaru
Sugeng Waluyo
4 September 2012 9:16 am

*
Maaf untuk apa website ini dibuat? Untuk memecah kaum kami (Muslim)? Untuk menjelekkan nabi-nabi kami? Untuk memperolok Tuhan kami?

Kata-kata anda sangat terpelajar dan santun tapi setiap hurufnya mengandung racun.

Lalu anda berpikiran anda paling benar? Atau memang anda diajarkan dalam agama anda menghujat, menjatuhkan, dan memperolok agama lain?

Semoga anda terselamatkan dari jalan yang sekarang anda tempuh, ingat jika nanti ada bencana pada kehidupan anda jangan bertanya, Kenapa?

Sekian terima kasih.

Balas
staff
6 September 2012 9:47 am
Balasan ke  Sugeng Waluyo

~
Saudara Sugeng Waluyo,

Sepertinya saudara sudah salah dalam memberi penilaian kepada kami. Tujuan kami bukan untuk memecah, menjelekkan atau memperolok siapapun. Tujuan website ini untuk tempat saling bertukar-pikiran tentang hal-hal yang berhubungan dengan wanita dan kepercayaannya.

Isa Al-Masih tidak mengajarkan untuk menghujat, menjatuhkan ataupun memperolok. Justru Dia mengajarkan supaya selalu mengasihi sesama. “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Injil, Rasul Besar Matius 22:39).

Untuk itulah kami juga ingin berbagi kasih.

Kami memandang bahwa kita tentu boleh saja saling menyampaikan argumentasi mengenai kepercayaan masing-masing. Jika Saudara menemukan bahwa ternyata apa yang kami tulis adalah salah, maka tentu Saudara boleh memberi masukan kepada kami. Sehingga kita dapat memperoleh manfaat dari sini.
~
DA

Balas
Jenni
5 September 2012 2:08 am

*
Untuk saudara Sugeng Waluyo,

Jika isi dari artikel di atas tidak benar, kenapa saudara merasa jika agama saudara dipecah, dan merasa bahwa situs ini memperolok Tuhan dan nabi-nabi saudara?

Bukankah ini adalah suatu fakta yang sudah terjadi dan terus terjadi. Bukankah poligami hanya di ijinkan oleh umat Muslim saja?

Jika saudara menganggap ini salah, berarti saudara tidak percaya dan yakin dengan ajaran Islam sendiri!?

Balas
Andre
23 September 2012 2:05 am

*
Saya pernah melihat diskusi sudut pandang tentang poligami, ada debat Islam dan poligami.

Namun di artikel ini saya lihat tidak ada bahan tersebut, artikel ini tidak lengkap. Jadi, jangan ada yang pindah keyakinan.

Balas
staff
25 September 2012 1:52 am
Balasan ke  Andre

~
Saudara Andre,

Forum ini adalah forum diskusi, bukan forum untuk memaksakan seseorang menerima apa yang kita yakini. Kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi kita untuk boleh saling berinteraksi dengan sopan di tempat ini.

Poligami sepintas hanya memikirkan kepentingan pria saja? Jadi, merupakan ide baikkah poligami itu? Bagaimana menurut Saudara?
~
DA

Balas
Mekar
25 September 2012 1:34 am

*
Kepada Staff IDI Yth,

Sebuah pertanyaan buat anda. Salah satu tujuan pernikahan adalah untuk memiliki keturunan. Akan tetapi kenapa ada para pendeta/pastor dan biarawati tidak mau nikah? Apakah ada anjuran dalam ajaran Yesus?

Balas
staff
26 September 2012 10:04 am
Balasan ke  Mekar

~
Saudara Mekar,

Terima kasih atas pertanyaan saudara. Memang setiap pernikahan mendambakan keturunan, tapi bukan itu tujuan utamanya.

Ada wanita ataupun pria yang memang tidak menikah. Mengenai orang yang tidak menikah Isa Al-Masih mengatakan demikian: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti” (Injil, Rasul Besar Matius 19:11-12).
~
DA

Balas
anjo
3 Oktober 2012 5:31 am

*
Jika berpoligami:
1. Suami bisa melampiaskan nafsunya berdasarkan keinginannya saat itu. Dalam hal ini nafsu lebih dominan.
2. Setidaknya memberikan kesempatan kepada beberapa wanita yang belum memperoleh suami atau susah mendapatkan suami. Pada kenyataannya nilai lahiriah menjadi patokan atau ukuran untuk berpoligami
3. Menyisakan banyak permasalahan keluarga atau menimbulkan masalah baru dalam keluarga. Kecenderungan nilai kesetiaan menjadi berkurang.
4. Pribadi yang berpoligami lebih banyak memikirkan hal-hal duniawi ketimbang perkara rohani.
5. Jika pribadi itu kaya secara duniawi dan memiliki kesanggupan dalam berpoligami sepintas segala kesusahan duniawi terpenuhi. Tetapi pada kenyataannya menimbulkan permasalahan dari sisi rohani dengan pribadi yang bersangkutan dengannya.

Balas
staff
5 Oktober 2012 1:47 am
Balasan ke  anjo

~
Saudara Anjo,

Terima kasih atas komentar saudara, yang telah menyampaikan permasalahan yang timbul akibat poligami. Kesimpulannya, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa poligami bukan ide yang baik dalam pernikahan.
~
DA

Balas
Rafi
27 Oktober 2012 4:34 am

*
Memahami kebaikan poligami itu bukan diukur berdasarkan logika melainkan dengan “iman”. Kalau Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan seperti itu maka selaku orang beriman sewajibnya mengatakan “sami’na wa Atho’na”. Karena seseorang yang beriman yakin bahwa sesuatu yang diperintahkan itu pasti mengandung kebaikan, baik yang sudah diketahui maupun yang belum diketahui.

Balas
staff
29 Oktober 2012 1:31 pm
Balasan ke  Rafi

~
Saudara Rafi,

Adalah baik jika kita menaati perintah Allah. Namun ada yang perlu dipertanyakan. Karena ketetapan Allah sejak semula mengenai pernikahan adalah seorang suami hanya berhak atas satu istri. “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Taurat, Kitab Kejadian 2:24).

Demikian Isa Al-Masih sangat menentang poligami dan menekankan satu istri saja seumur hidup! “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).

Masak Allah plin-plan, tidak konsisten? Tidak. Jadi jelas Allah tidak akan memberi wahyu yang bertentangan dengan yang sudah diwahyukan. Artinya poligami adalah salah satu pelanggaran terhadap ketetapan Allah.
~
DA

Balas
Agung
7 November 2012 10:58 pm

*
Padahal di Alkitab nabi-nabi poligami. Bahkan kuantitasnya jauh lebih banyak, seperti tak berbatas.

Balas
staff
9 November 2012 1:45 am
Balasan ke  Agung

~
Saudara Agung benar, di dalam Alkitab para nabi-nabi ada yang poligami. Itulah firman Allah, tidak menyembunyikan dosa. Bahwa dalam diri manusia terdapat satu ikatan dosa yang membelenggu mereka. Egois, serakah, kejahatan, gelap mata. Keserakahan inilah yang akhirnya membuat manusia tidak mematuhi aturan yang telah Allah tetapkan.

Salah satu ketetapan Allah yang telah dilanggar manusia adalah hal perkawinan. Dimana ketika Allah menciptakan manusia, Dia telah menetapkan, satu suami hanya berhak atas satu istri, demikian sebaliknya. “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Taurat, Kitab Kejadian 2:24).

Nah, salah satu ajaran Isa Al-Masih adalah memperbaiki kehidupan sosial yang dirusak tersebut.
~
DA

Balas
Dani Muhammad
9 Maret 2013 2:36 pm

*
Semoga pengurus situs ini nantinya menjadi wanita yang dimuliakan oleh Allah, diberikan keselamatan dan Hidayah. Cukup satu ayat yang dia baca maka ia beriman. Mengapa saya begitu yakin, karena tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Balas
staff
20 Maret 2013 9:43 am
Balasan ke  Dani Muhammad

~
Saudara Dani Muhammad,

Terima kasih atas komentarnya. Saudara Dani benar, kami percaya akan iman yang timbul dari Injil. Keselamatan kami adalah pemberian dari Allah, bukan hasil usaha kami. Penjelasannya dapat saudara Dani baca di url ini: http://tinyurl.com/6ntpehg.

Kami yakin keselamatan kekal adalah pengharapan bagi setiap umat manusia, bukan?

Demikian menjadi wanita yang dimuliakan oleh Allah adalah harapan setiap wanita, bukan? Jadi menurut Saudara Dani poligami ide yang baikkah?
~
DA

Balas
yuni
2 Mei 2013 3:37 am

*
Dalam kehidupan manusia selalu berhasrat dan bernafsu. Pandangan Al-Quran mencakup semua. Maksud ayat nikahilah 1,2,3,4 wanita tapi bila tidak mampu berlaku adil nikahi satu saja. Kembali pada setiap pria, apakah kalian mampu berlaku adil? Jawabannya ada pada diri masing-masing. Janganlah menyalahkan ayat yang sebenarnya hanya nafsu yang terpuaskan.

Saya sebagai keluarga Muslim. Bapak saya, suami saya, kakak ipar saya tidak ada yang poligami. Janganlah dipandang Islam cuma poligami saja. Maksud Allah adalah menghindarkan manusia dari zinah. Lihatlah kehidupan yang berlaku sekarang jangan pada satu titik saja.

Balas
staff
8 Mei 2013 9:17 am
Balasan ke  yuni

~
Saudara Yuni,

Mengenai pertanyaan Saudara Yuni, apakah pria mampu berlaku adil? Kitab saudara Yuni sendiri menjawab bahwa “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…” (Qs 4:129).

Kalau tidak salah saudara Yuni menyatakan bahwa poligami hanya untuk memuaskan nafsu. Poligami untuk menghindari manusia dari zinah.

Seperti yang Saudara Yuni tulis di atas bahwa manusia selalu berhasrat dan bernafsu. Maka timbul pertanyaan apakah dengan menikahi dua, tiga atau empat hasrat dan nafsu itu akan hilang/terpuaskan dan menjamin tidak berzinah? Jadi, ide yang baikkah poligami menurut saudara Yuni?

Satu-satunya cara untuk menghindari dosa adalah memberitahu Allah, bahwa kita tidak berdaya untuk mengubah diri sendiri.

Itulah sebabnya Isa Al-Masih datang ke dunia dan mati di kayu salib. Dia datang sebagai Penanggung dosa. Tujuan-Nya membebaskan manusia dari dosa dan kesalahan. Juga untuk memberi kuasa-Nya, agar manusia dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah.

“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia [Isa Al-Masih], tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia” (Injil, Surat 1 Yohanes 3:6).
~
DA

Balas
prima
5 Mei 2013 1:59 pm

*
Apapun yang diajarkan dalam agama Islam sebagai umat Islam kami wajib menaati perintah Allah dan meneladani rasul kami. Seperti anda menaati perintah agama anda. Jadi tidak ada masalah bagi kami umat Islam tentang hal ini. Karena kami telah memilih Islam kami akan menaatinya.

Balas
staff
8 Mei 2013 9:41 am
Balasan ke  prima

~
Saudara Prima,

Memang setiap orang mesti berpegang pada agamanya sendiri. Tetapi pantas juga kalau setiap orang melakukan penilaian atas agamanya sendiri. Mungkin dalam agamanya, ada hal-hal yang tidak benar.

Mungkin tidak pernah saudara Prima pikirkan, apakah poligami adalah ide yang baik?
~
DA

Balas
Hamba Moehammad
20 November 2013 3:38 pm

~
Apa pun penjelasan anda, seorang Muslim tak akan pernah terpengaruh dengan rayuan murahan para penggembala munafik.

Selamanya Muslim tak akan pernah meyakini agama anda dan Tuhan anda yang ada tiga/banyak itu (Bapak, Anak, Roh Kudus, bunda Maria, dan orang-orang yang dianggap suci oleh umat Kristen itu)

Logika sehat tak pernah menerima keyakinan irrasional ini.

Balas
staff
22 November 2013 9:40 am
Balasan ke  Hamba Moehammad

~
Saudara Hamba Moehammad,

Penjelasan kami bukan untuk merayu atau memaksakan keyakinan kami kepada saudara atau umat Muslim lain. Tetapi mari kita berpikir dan belajar bersama bagaimana seharusnya wanita diperlakukan sesuai dengan kebenaran firman Allah. Karena kaum wanita adalah ciptaan Allah seperti halnya kaum pria, bukan?

Khususnya pada topik ini tentang poligami. Bila melihat dampak yang ditimbulkan seperti wanita pasti mengalami penderitaan batin, perhatian pada istri pertama dan anak-anaknya pasti berkurang, yang tragis adalah perceraian. Bukankah dampak tersebut sangat merugikan wanita?

Untuk itu mari kita merenungkan dari hati kita yang paling dalam, apakah poligami ide yang baik?

Saudaraku, kamipun tidak menyakini banyak Allah tetapi satu Allah yang Esa. Kiranya saudara dapat membaca penjelasannya di sini: http://tinyurl.com/dy8j2nk
~
Daniar

Balas
syaiful
1 September 2014 5:39 am

~
Poligami adalah pilihan bukan paksaan. Sama dengan pilpres kemarin mau pilih Jokowi atau Prabowo terserah.

Balas
staff
2 September 2014 5:23 am
Balasan ke  syaiful

~
Saudara Syaiful,

Memang menurut Al-Quran poligami adalah pilihan, bukan paksaan. Tetapi pada kenyataannya, poligami adalah “hak mutlak” bagi seorang suami. Karena Al-Quran sendiri mengijinkan. Sehingga seorang suami yang ingin berpoligami, biasanya mereka lebih cendrung egois dan menganjurkan agar istrinya dapat memahami keinginannya untuk berpoligami, betul tidak?

Apapun alasannya, baik suatu pilihan atau pun tidak, poligami tetaplah bukan ajaran dari Allah. Sebab sejak semula Allah telah menetapkan seorang suami hanya berhak atas satu istri, demikian sebaliknya.

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Taurat, Kitab Kejadian 2:24).
~
Daniar

Balas
ayu
21 Maret 2015 3:41 am

~
Saya seorang Muslim, bahkan disekolahkan oleh orang tua di pesantren. Saya tinggal di Medan, Sumatera Utara. Kalau soal poligami, saya sangat tidak setuju. Itu memang duniawi. Jika saat pacaran saja diselingkuhi, kita sakit hati. Apalagi saat nanti menikah dipoligami, tambah pusing.

Balas
staff
23 Maret 2015 8:08 am
Balasan ke  ayu

~
Sdri. Ayu,

Terimakasih untuk komentar Anda. Apa yang Anda sampaikan sangat logis dan layak menjadi bahan perenungan bersama.

Inti dari sebuah hubungan kasih antar insan adalah komitmen kesetiaan, kepercayaan, dan cinta/kasih yang tak bersyarat. Ketiga hal ini menimbulkan rasa aman dan bahagia bagi seluruh anggota keluarga. Poligami, bagaimanapun alasannya, telah nyata merusak rasa aman & bahagia dalam keluarga.

Mari kita semua jujur menilai, jangan dibutakan oleh ajaran yang menentang Firman Allah: “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia” (Kitab Amsal Sulaiman 3:3-4)

~
Yuli

Balas
uciha
16 September 2015 12:50 am

~
Alkitab banyak menceritakan tentang hidup poligami. Bukankah Alkitab yang mengabarkan tentang kehidupan para nabi terdahulu yang berpoligami? Istri nabi Daud berapa dan gundiknya berapa? Salomo istrinya berapa, gundiknya berapa,dan seterusnya.

Nabi terakhirlah (Muhammad) yang bisa mengatur poligami, bahkan mempersulit orng yang ingin berpoligami dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Balas
staff
16 September 2015 4:07 am
Balasan ke  uciha

~
Sdr. Uciha,

Karena inspirator Alkitab adalah Allah yang Maha Benar, maka isinya jujur menyatakan kebobrokan kehidupan manusia, termasuk para nabi. Mengapa? Karena nabi pun adalah manusia berdosa!

Carilah dalam Alkitab, adakah perkawinan poligami para tokoh seperti Abraham, Daud, dan Salomo merupakan perintah Allah kepada mereka? Tak satupun ayat Anda temukan. Sebaliknya, tentang segala pelanggaran manusia termasuk ulah para tokoh Alkitab dalam hidup perkawinannya, Yesus (Isa Al-Masih) dengan tegas menegur: “Karena ketegaran hatimu …, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (injil, Rasul Besar Matius 19:8).

Saudaraku, tidakkah Anda sadar Muhammad berlaku seperti para pemuka Yahudi (kaum Farisi) yang munafik? Inilah alasannya:

1. Seperti orang saleh, ia mengajarkan hukum poligami yang nampak baik padahal jelas menentang hukum Allah sejak penciptaan Adam-Hawa

2. Dia menetapkan syarat poligami yang berat pada para pengikutnya (maksimum 4 istri, harus adil). Tapi membebaskan dirinya dari semua syarat tsb (istri lebih dari 10, bebas dari kaum manapun, banyak intrik ketidakadilan antar istri, para mantan istrinya tidak boleh diperistri orang lain).

Nyata bahwa ajaran manusia tidak dapat disejajarkan dengan ajaran Allah sejati.
~
Yuli

Balas
uciha
16 September 2015 12:57 am

~
Staff Isa Islam dan Kaum Wanita,

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Taurat, Kitab Kejadian 2:24).

Apaka firman ini yang mendasari pelarangan poligami?

Balas
staff
16 September 2015 4:21 am
Balasan ke  uciha

~
Anda benar, Sdr. Uciha!

Sejak semula Allah menciptakan satu orang Adam dan satu orang Hawa yang dibentuk-Nya dari tulang rusuk Adam untuk kemudian Allah [u]persatukan dalam pernikahan yang kudus[/u]. Itulah sebabnya dikatakan: “…sehingga keduanya menjadi satu daging”.

Penyatuan dua pribadi selalu melibatkan unsur kesetiaan agar tetap utuh. Maka, kehadiran wanita lain dalam perkawinan poligami pasti menghancurkan unsur kesetiaan yang telah dibangun suami-istri. Akibatnya, perpecahan pasti terjadi, entah secara formal (perceraian), atau informal.
~
Yuli

Balas
uciha
16 September 2015 1:35 am

~
“Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia” (Kitab Amsal Sulaiman 3:3-4).

Apakah firman ini ada menyebutkan kasih setia diperuntukkan hanya satu org? Apakah jika Yesus berkata kasih hanya diperuntukan satu, bukan seluruh umat-Nya?

Balas
staff
16 September 2015 4:35 am
Balasan ke  uciha

~
Sdr. Uciha,

Di dalam “kasih” selalu ada unsur “setia” yang artinya “tidak berkhianat/menyakiti” orang yang kita kasihi. Nah, dapatkah Anda bayangkan, jika istri/suami Anda yang telah berjanji setia membangun rumah tangga bersama Anda, di kemudian hari menaruh hati kepada orang lain, apakah Anda tidak terluka? Dapatkah pasangan Anda dikatakan setia? Renungkanlah dengan bijak.

Yesus dalam hubungan kasih-Nya dengan jemaat-Nya, mengumpamakan diri-Nya sebagai pengantin pria yang setia kepada pengantin wanita-Nya, yaitu jemaat-Nya (baca kembali Injil, Surat Efesus 5: 25-27 seperti tertulis dalam artikel). Kasih sempurna Yesus kepada jemaat-Nya dibuktikan melalui kesetiaan-Nya yang merelakan diri-Nya mati di kayu salib bagi keselamatan umat-Nya. maka, kebangkitan-Nya dari kematian membuktikan bahwa kuasa kasih-Nya menang atas kuasa dosa.
~
Yuli

Balas
uciha
18 September 2015 1:42 am

~
“Kasih sempurna Yesus kepada jemaat-Nya dibuktikan melalui kesetiaan-Nya yang merelakan diri-Nya mati di kayu salib bagi keselamatan umat-Nya. maka, kebangkitan-Nya dari kematian membuktikan bahwa kuasa kasih-Nya menang atas kuasa dosa”

Bukanlah bentuk kasih Yesus, tetapi kekejaman para rabi Yahudi dan orang yg menginginkan kematian Yesus. Jadi bukanlah kemenangan kuasa kasih atas kuasa dosa ,tetapi bertambah-tambahlah dosa mereka yang menghendaki kematian Yesus.

Balas
staff
18 September 2015 3:36 am
Balasan ke  uciha

~
Sdr. Uciha,

Apakah Anda tidak mampu menjawab pertanyaan kami: “jika istri/suami Anda yang telah berjanji setia membangun rumah tangga bersama Anda, di kemudian hari menaruh hati kepada orang lain, apakah Anda tidak terluka? Dapatkah pasangan Anda dikatakan setia?” sehingga Anda lari dari pokok bahasan utama?

Silakan jawab dulu pertanyaan kami di atas karena berkaitan erat dengan paham poligami yang Anda yakini.
~
Yuli

Balas
uciha
22 September 2015 12:27 am

~
“jika istri/suami Anda yang telah berjanji setia membangun rumah tangga bersama Anda, di kemudian hari menaruh hati kepada orang lain, apakah Anda tidak terluka? Dapatkah pasangan Anda dikatakan setia?” sehingga Anda lari dari pokok bahasan utama?

Saya sudah pernah merasakan itu, asal anda tahu. Hanya orang yang tidak bisa menerima kenyatan yang bisa sakit hat. Jika sesuatu hal tidak bisa dipaksakan lagi,mengapa harus dipaksakan?

Hal poligami mengapa hanya Islam saja yang kalian dakwa? Di tempat saya ada juga umat Nasrani yang beristri dua, bahkan ada yang sudah berumah tangga masih pergi ke lokalisasi. Apakah itu bisa dibilang setia?

Balas
staff
22 September 2015 5:27 am
Balasan ke  uciha

~
Maaf Sdr. Uciha jika pertanyaan kami mengusik Anda. Apakah dalam hal pengalaman Anda, hal itu terjadi dalam ikatan perkawinan, atau masihkah dalam jenjang pra-nikah? Jika telah terikat dalam hubungan nikah, cukup aneh jika sebagai manusia normal, Anda tidak memiliki perasaan sakit. Apakah dalam hal ini Anda “pelaku” atau “korban”? Atau, apakah Anda sudah tidak memiliki rasa cinta terhadap pasangan hingga merasa biasa saja? Dengan kata lain, dalam pernikahan Anda tidak ada penyatuan jiwa diantara Anda dan pasangan sehingga saat salah satu selingkuh, perasaan Anda tetap datar. Sebaliknya, bukankah Allah sendiri yang menghendaki penyatuan “dua menjadi satu” dalam ikatan perkawinan (Taurat, Kitab kejadian 2:24)?

Tentang poligami, apakah sepak terjang tetangga Nasrani Anda didasarkan pada ayat-ayat Alkitab? Tentu tidak, bukan? Sebaliknya justru dalam kitab suci Islamlah poligami dianjurkan.
~
Yuli

Balas
uciha
26 September 2015 12:01 am

~
“Maaf Sdr. Uciha jika pertanyaan kami mengusik Anda. Apakah dalam hal pengalaman Anda, hal itu terjadi dalam ikatan perkawinan, atau masihkah dalam jenjang pra-nikah? Jika telah terikat dalam hubungan nikah, cukup aneh jika sebagai manusia normal, Anda tidak memiliki perasaan sakit. Apakah dalam hal ini Anda “pelaku” atau “korban”?”

Saya sudah pernah bercerai. Jujur saya tidak merasa sakit hati karena saya punya prinsip: lahir, jodoh, rezki, dan maut bisa terjadi pada diri kita dan akan kita lalui. Coba Anda tanyakan pada Nasrani yang bercerai, apakah mereka suka,tapi memang itu bisa terjadi.

Balas
staff
28 September 2015 5:07 am
Balasan ke  uciha

~
Sdr. Uciha,

Dengan prinsip yang Anda pegang (lahir, jodoh, reski, dan maut), menurut Anda, apakah perceraian yang Anda alami adalah takdir Allah? Dengan kata lain, apakah Allah penyebab bencana yang dialami manusia? Jika Allah Maha Benar dan Maha Penyayang, mengapa Allah bisa punya rancangan celaka bagi umat-Nya? Di manakah letak Maha Penyayang-Nya? Ataukah di balik prinsip yang seperti Anda pegang, manusia sedang melempar tanggung jawab dosanya kepada Allah dengan mengatakan: “semua dalam takdir Allah”?

Anda perlu lebih serius memikirkan hal ini, Saudaraku. Jika tidak, Anda sedang dikelabuhi dengan konsep “allah palsu” yang tidak pernah membawa Anda kepada kebenaran sejati dari Allah.
~
Yuli

Balas
uciha
29 September 2015 1:18 am

~
Staff Isa Islam dan Kaum Wanita:
“Anda perlu lebih serius memikirkan hal ini, Saudaraku. Jika tidak, Anda sedang dikelabuhi dengan konsep “allah palsu” yang tidak pernah membawa Anda kepada kebenaran sejati dari Allah”

Saya setuju dengan Anda.Ajaran palsu bisa terjadi jika saya pelajari pada ajaran Kristen yang banyak pemalsuan. Saya juga baca Alkitab, banyak pertentangan. Jadi saya sarankan pada Anda, mumpung masih ada kesempatan, carilah ajaran yang benar. Mungkin Islam baik untuk Anda.

Balas
staff
30 September 2015 4:41 am
Balasan ke  uciha

~
Sdr. Uciha,

Jika ajaran Islam sungguh berasal dari Allah, mengapa ajaran tsb sangat tidak konsisten dengan karakter sejati Allah yang setia dan menghendaki kesetiaan umat-Nya, termasuk dalam bermonogami? Bukankah dalam Taurat dan Injil Allah telah menyatakannya? Lalu mengapa Islam justru menganggap poligami, bahkan perceraian sebagai “persetujuan Allah” bahkan “takdir dari-Nya”?

Dengan hati dan akal yang jernih tentu kita semua dapat membedakan manakah ajaran yang sejati dan bukan.
~
Yuli

Balas

Sidebar Utama

Artikel Terbaru

  • Jangan Menyerah! Pertolongan Allah Saat Memiliki Beban Berat
  • Hukum Islam Nikah Beda Agama: Boleh Atau Tidak?
  • Wanita Penggoda Pria Atau Perhiasan Dunia?
  • Salah Wanita! Faktor Yang Menyebabkan Gempa Bumi?
  • Benarkah Wanita Banyak Di Neraka? Bagaimana Cara Wanita Ke Surga?

Artikel Terpopuler Bulan Ini

  • Jangan Menyerah! Pertolongan Allah Saat Memiliki Beban Berat
  • Hukum Islam Nikah Beda Agama: Boleh Atau Tidak?
  • 7 Alasan Utama Pria Muslim Berpoligami dan Dampaknya
  • Wanita Penggoda Pria Atau Perhiasan Dunia?
  • Benarkah Wanita Banyak Di Neraka? Bagaimana Cara Wanita Ke Surga?

Artikel Yang Terhubung

  • Apakah Benar Poligami Diajarkan Dalam Alkitab? 
  • Kewajiban Suami Pada Istri: Kunci Pernikahan Bahagia?
  • Apakah Boleh Suami Memukul Istri? Ajaran Al-Quran…
  • Resiko Pernikahan Dini, Bagaimana Ajaran Islam dan…
  • Apakah Poligami Syariat Allah Dari Mulanya?

Renungan Berkala Al-Fatihah

Apabila Anda ingin menerima renungan singkat setiap minggu, silakan menekan tombol di bawah ini

Renungan Berkala Isa Dan Al-Fatihah

Renungan Berkala Wanita

Apabila Anda ingin menerima renungan singkat Isa Dan Kaum Wanita setiap minggu, silakan menekan tombol di bawah ini

Renungan Berkala Isa Dan Kaum Wanita

Footer

Hubungi Kami

Apabila Anda memiliki pertanyaan / komentar, silakan menghubungi kami dengan menekan tombol di bawah ini.

Hubungi Kami

Menu

  • Maksud Situs Ini
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    • Kaum Wanita, Isa, Dan Al-Fatihah
    • Renungan Singkat Isa, Islam dan Kaum Wanita
    • Kebijakan dalam Membalas E-Mail
  • Jalan Lurus ke Surga
    • Jalan Ilahi Menuju Ke Surga
    • Doa Keselamatan
    • 4 Hal Yang Allah Ingin Anda Ketahui
  • Topik Lain

Social Media


Facebook

Twitter

Instagram

YouTube
Hak Cipta © 2009 - 2026 Dialog Agama Isa Islam Dan Kaum Wanita. | Kebijakan Privasi |
Kebijakan Dalam Membalas Email
| Hubungi Kami

wpDiscuz